AMBON, Siwalima.id - Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Ambon mengalami peningkatan sepanjang 2026 dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon, Johan Stefanus Norimarna, mengatakan peningkatan kasus cukup terlihat sejak Januari hingga Agustus 2026. Meski demikian, tren kasus kini mulai menurun.
“DBD tahun 2026 ini meningkat dibandingkan tahun lalu. Satu-dua bulan lalu cukup meningkat, tapi sekarang sudah mulai menurun. Dari Januari sampai Agustus lumayan besar peningkatannya,” kata Johan kepada Siwalima di Balai Kota Ambon, Selasa (22/9)
Menurutnya, peningkatan kasus DBD tidak terjadi hanya di satu wilayah. Karena itu, penanganan DBD tidak cukup hanya mengandalkan pengasapan atau fogging.
Johan mengatakan, masyarakat umumnya meminta fogging ketika ditemukan kasus DBD di lingkungan mereka. Namun, fogging bukan langkah pertama dalam penanganan.
“Kalau bicara DBD, pasti ujungnya masyarakat minta fogging. Tapi fogging itu jalan terakhir. Yang pertama adalah kerja bakti dan kita cek kepastiannya seperti apa,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pelaksanaan fogging memiliki persyaratan tertentu dan tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan adanya satu kasus yang ditemukan di suatu wilayah.
Menurut Johan, fogging dapat dilakukan apabila ditemukan minimal satu kasus positif DBD yang disertai kematian.
Selain itu, fogging dapat dilakukan jika terdapat sedikitnya dua kasus positif DBD, disertai lebih dari tiga warga yang mengalami demam di wilayah sekitar dengan radius 100 meter dan ditemukan jentik nyamuk Aedes Aegypti. “Jadi kerja bakti dan penerapan 3M Plus dulu, baru kita fogging,” katanya.
Johan menegaskan, pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M Plus tetap menjadi langkah penting dalam mencegah penyebaran DBD.
Masyarakat diminta tidak hanya menjaga kebersihan di dalam rumah, tetapi juga memperhatikan lingkungan sekitar, terutama tempat-tempat yang berpotensi menjadi lokasi berkembang biaknya nyamuk Aedes aaegypti.
“Harapan kepada masyarakat, jangan lupa jaga kebersihan lingkungan. Itu penting. Walaupun dalam rumah bersih, tapi di halaman masih ada kaleng atau tempat yang bisa menampung air, sama saja kita memelihara nyamuk,” tandasnya.(S-30)