AMBON, Siwalimanews – Keputusan pelantikan kepala daeÂrah yang tidak bersengketa di MahÂkamah Konstitusi pada 6 Februari menÂdatang, diapresiasi dan disambut baik.
Staf pengajar Fakultas Sosial dan IlÂmu Politik, Koritelu bilang, kepemimÂpinan HL, sapaan akrab Lewerissa, dan Abdullah Vanath, sangat dinanti-nantikan.
Pasalnya, HL dinilai memiliki keÂmampuan, kedekatan maupun jeÂjaring di tingkat pusat yang bisa meÂnarik perhatian serius pemerintah pusat kepada Maluku.
âMemang secara sosio ekoÂnomi, politik tetapi juga sedang diliputi dengan perdebatan batin berÂkepanjangan, karena orang Maluku sadari keadaan objektif wilayahnya yang sarat dengan kekayaan sumber daya alam. dan kesadaran politik itu membuat meÂreka sadar bahwa ternyata bahwa kekurangan di Maluku itu adalah integritas pemimpin yang kuat bahkan, dan integritas yang mumÂpuni sehingga bisa mengelola poÂtensi-potensi yang ada untuk keÂmaslahatan orang Maluku,â ujarnya kepada Siwalima Kamis (23/1).
Dia menilai, HL memiliki keÂmamÂpuan dan integritas yang tinggi untuk memajukan Provinsi Maluku ini dari berbagai keterÂpurukan, dan meningkatkan sumÂber-sumber pendapatan daerah.
âSaya sangat optimis dengan kepemimpinan gubernur dan wakil gubernur terpilih, yang cukup mempunyai sepak terjang dan track record serta pengalaman-pengamanan yang tidak bisa dianggap enteng. Punya kemamÂpuan memimpin parpol, menjadi anggota DPR-RI tetapi juga kedekatan pak Hendrik dengan pusat,â katanya.
Menurutnya, Maluku memiliki potensi alam yang sangat luar biasa, konstruksi kebijakan yang berpihak pada Maluku. dan itu ada pada pundak Hendrik Lewerissa dan Abdullah Vanath.
Dikatakan, Maluku membutuhÂkan kedekatan yang lebih konpreÂhensif dan jauh lebih mendalam di tingkat pusat dan itu ada pada seorang HL.
Apresiasi
Sementara itu, akademisi Fisip UKIM, Amelia Taihutu memberikan apresiasi bagi Komisi II DPR, berÂsama Kemendagri, KPU, Bawaslu dan DKKP Republik Indonesia yang telah menyekati jadwal peÂlantikan kepala daerah yang tak bersengketa di Mahkamah KonsÂtitusi pada 6 Februari mendatang.
Amalia bahkan memberikan apresiasi bagi Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku terpilih, Hendrik Lewerissa dan Abdullah Vanath untuk bisa membangun Maluku ini kedepan.
Kepada Siwalima melalui teleÂpon selulernya, Kamis (23/1) Hendrik dan Vanath dinilai mampu membangun Maluku ke depan lebih baik. Apalagi lima tahun belakangan ini terjadi kemunduran yang luar biasa terhadap tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik di Maluku.
Birokrasi Pemrov Maluku, kata Amalia, dijadikan sebagai tempat untuk mensejahterakan kelompok tertentu bukan kepada masyarakat yang seharusnya mendapatkan hak tersebut.
âKondisi Maluku saat ini meÂmang membutuhkan pemimpin yang memiliki hati untuk membenahi daerah ini,â ujarnya.
Pola kepemimpinan Maluku lanÂjut dia, harus memiliki visi besar untuk menghasilkan kebijakan yang menyentuh kebutuhan masyaÂrakat. Kondisi Maluku yang masih berteÂngger di posisi daerah miskin keÂempat tentu harus mendapatkan perhatian serius gubernur dan wakil gubernur dengan intervensi kebiÂjakan yang menyentuh perÂsoalan.
âKemiskinan, pengangguran dan infrastruktur yang saat ini menjadi masalah tentu harus diselesaikan oleh Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku yang baru,” tegas Tahitu.
Selain itu, persoalan pendidikan dan kesehatan yang selama ini dikeluhkan masyarakat kecil harus juga mendapatkan perhatian Gubernur dan Wakil Gubernur, agar ada kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses baik pendidikan maupun kesehatan.
âKita tentu mendukung penuh kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku yang akan dilantik nanti dengan harapan kebijakan yang diambil harus bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat kecil,â tandas Tahitu.
Program Menyentuh
Sementara itu, Koordinator Lembaga Pemantauan PenyeÂlenggara Negara Maluku, Minggus Talabessy mengatakan, gubernur dan wakil gubernur baru meruÂpakan sosok yang memiliki keÂmamÂpuan secara manajerial.
Pengalaman yang dimiliki seÂlama beberapa tahun baik di pemeÂrintah maupun di politik tentu menÂjadi dasar bagi perbaikan tata kelola pemerintahan di Maluku.
Kendati begitu, Talabessy meÂminta Gubernur dan Wakil GuberÂnur Maluku ketika dilantik nantinya harus menitikberatkan kebijakan pada program yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
âMasyarakat harus menjadi starting poin dalam setiap pengamÂbilan kebijakan, artinya muara dari kebijakan itu adalah kesejahteraan masyarakat,” ujar Talabessy kepaÂda Siwalima melalui telepon selulernya, Kamis (23/1).
Menurutnya Gubernur dan Wakil Gubernur harus mengedepankan prinsip belanja masalah artinya masalah yang ada di masyarakat digali dan ditindaklanjuti dengan kebijakan pemerintah.
âPrinsipnya Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku yang baru nanti harus menempatkan masyarakat diatas kepentingan pribadi seÂhingga Maluku dapat keluar dari masalah seperti yang terjadi hari ini,â tandasnya.
Komisi II DPR bersama KemenÂterian Dalam Negeri, Komisi PeÂmilihan Umum, Badan Pengawas Pemilu dan Dewan Kehormatan PeÂnyelenggara Pemilu, telah meÂnyepakati jadwal pelantikan kepala daerah yang tak bersengketa di Mahkamah Konstitusi.
Rencananya pelantikan digelar di Istana Negara, Jakarta, Kamis, 6 Februari 2025.
âDilaksanakan Pelantikan SerenÂtak pada tanggal 6 Februari 2025 oleh Presiden Republik Indonesia di Ibu Kota Negara, kecuali Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Provinsi Aceh sesuai dengan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku,â kata Ketua Komisi II DPR Rifqinizamy Karsayuda saat rapat kerja di Ruang Rapat Komisi II DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, (22/1).
Terdapat 21 gubernur dan wakil gubernur terpilih, tanpa sengkeat hasil pilkada di MK. Kemudian, 225 bupati dan wakil bupati, serta 50 wali kota dan wakil wali kota juga tak mengajukan sengketa. (S-20)