SIWALIMA.id > Berita
Headline , Politik | Senin, 1 September 2025 pukul 15:10 WIT
9 DPC Tolak Orno Jadi Ketua DPD Hanura Maluku

AMBON, Siwalimanews – Sembilan Dewan Pim­pinan Cabang Partai Ha­nura menolak Barnabas Orno sebagai Ketua DPD  Hanura Maluku.

Aksi penolakan itu di­lakukan  9 DPC Partai Ha­nura dalam musyawarah daerah DPD yang ber­lang­sung di Pasifik Hotel, Sabtu (30/8) dengan cara walk out dari kegiatan tersebut.

Mereka tidak menerima keputusan DPP Partai Hanura memutuskan man­tan Wakil Gubernur Maluku itu sebagai Ketua DPD Hanuara Maluku yang dibacakan Wasek­jen, Serfasius Serbaya Manek.

Pasca keputusan diba­cakan, Ketua DPC Mal­teng Sulaiman Opier me­ledak. Ia keberatan, dan menolak keputusan DPP.

“Tidak bisa. Kami tidak setuju. Kami Menolak.  Dia tidak berdarah-darah terhadap partai ini,” teriak Sulaiman.

Senada dengan Sulaiman, Se­ba­gian besar peserta menolak hasil keputusan dan SK penetapan ketua terpilih. Meski demikian, Wa­ketum Serfasius meminta DPC yang tidak menerima keputusan DPP untuk meninggalkan lokasi Musda.

Sontak sembilan DPC langsung walkout, dan meninggalkan forum Musda. Termasuk salah satu calon Ketua DPD yang adalah Ketua DPC MBD, Erick Angky.

Nampak masih berada di lokasi, selain Barnabas Orno, ada calon lainnya yakni: Sulaiman Layn dan Sulaiman Letsoin. Keduanya terli­hat berpelukan sambil mengusap air mata dan menerima hasil keputusan DPP Partai Hanura.

Tinggalkan Hanura

Setelah tinggalkan forum Musda, Erick Angky kepada wartawan menyesalkan hasil keputusan DPP, dan menegaskan siap meninggal­kan Partai Hanura.

Baginya, keputusan DPP sangat bertentangan dengan asas mus­yawarah mufakat, dimana demo­krasi harus dijunjung tinggi.

“Beta punya kewajiban moral berdiri di depan saudara-saudara DPC, jika keputusan itu bertenta­ngan dengan hati nurani dari te­man-teman sekalian,” ungkapnya.

Secara personal, Erick menga­ku, dirinya dan Barnabas Orno da­tang dari satu wilayah yang sama yakni MBD, hubungannya baik dengan BNO, bahkan menghor­mati BNO sebagai orang yang lebih tua.

“Namun keputusan itu, kembali­kan kepada teman-teman DPC. Sebab kita lahir dalam semangat yang sama. Bahkan kita telah bertemu untuk menyamakan per­sepsi bagi kepentingan partai kedepan,” sebutnya.

Ia juga menyentil dinamika partai Hanura yang nilainya sudah muak dan capek.

Erick menegaskan, dirinya telah menyatakan sikap mundur dari Partai Hanura.

“Saya nyatakan mundur. Saya akan tawarkan secupa kekuatan politik di MBD untuk bergabung dengan Partai Gerindra. Saya pastikan keluar tetapi akan bawa kekuatan politik di MBD untuk Partai Gerindra,” sambungnya.

Ia mengaku, sangat mengagumi Ketua Umum Oesman Sapta Odang. Dan dalam kesempatan ia memegang pernyataan OSO soal moral dan komitmen partai.

“Perlu dicatat, pemimpin itu dihargai jika perkataan dan per­buatan selaras. Dan kalau seperti ini, maka saya memilih keluar tinggalkan Hanura,” pungkas Erick.

Harusnya ada empat rekomen­dasi, sehingga memberi ruang kepada DPC untuk memilih siapa yang layak memimpin Hanura Maluku periode 2025–2029, bukan DPP menggunakan cara seperti ini,” tegas Ketua DPC Hanura Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT), Hendrik Kuserin.

Ia menilai sikap DPP tidak mencerminkan semangat musya­wa­rah mufakat sebagai prinsip partai, bahkan terkesan ada reka­yasa dalam proses penetapan calon.

“Demokrasi itu mufakat, bukan satu rekomendasi saja. Kami tidak menuntut apa-apa, hanya menuntut dihargai sebagai pemilik suara. Hak suara DPC jangan dihilangkan,” tambahnya.

Senada, Ketua DPC Hanura Maluku Tengah, Solaiman Opier, menyebut keputusan DPP menya­lahi prosedur.

Ia mengungkapkan, dalam veri­fikasi administrasi sebenarnya ada empat nama calon yang diajukan ke pusat. Namun, yang dibacakan diarena Musda hanya satu nama.

Bahkan tanda tangan yang ter­cantum bukan milik Ketua Umum, tapi Ketua OKK. Kami merasa dibohongi,” ujarnya.

Menurutnya, langkah DPP yang mengabaikan hak suara DPC sama saja dengan mengusir pe­ngurus cabang dari rumah sendiri. Karena itu, sembilan DPC berse­pakat menempuh jalur hukum partai

Terpilih

Barnabas Nathaniel Orno resmi terpilih sebagai Ketua DPD Partai Hanura Provinsi Maluku periode 2025–2030 melalui Musyawarah Daerah (Musda) IV yang berlang­sung di Pacific Hotel, Ambon, Sabtu (30/8).

Dalam keterangannya, Barna­bas menyatakan seluruh kandidat yang maju pada Musda merupakan kader terbaik. Namun, sesuai me­kanisme organisasi, partai mem­bu­tuhkan satu pemimpin untuk menahkodai roda organisasi ke depan.

“Empat orang yang mengajukan berkas semuanya baik. Perbedaan itu biasa dalam dinamika politik. DPP sudah menetapkan platform, dan keputusan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat Hanura dalam menghadapi Pemilu 2029,” kata Barnabas.

Barnabas juga menegaskan komitmen Hanura Maluku untuk mendukung program-program pemerintah pusat maupun daerah sepanjang berpihak kepada rakyat.

Ia menambahkan, partai tetap bersikap kritis terhadap kebijakan yang hanya bersifat proyek dan tidak memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

“Kalau programnya benar-benar untuk kepentingan rakyat, Hanura akan mendukung sepenuhnya. Namun jika hanya proyek yang tidak pro-rakyat, tentu kami akan kritisi sekaligus memberikan solusi,” ujarnya.

Kolektif

Wakil Sekretaris Jenderal Kajian Strategis DPP Hanura, Serafius Serbaya Manek, menyampaikan keputusan Musda merupakan hasil kolektif yang harus dijalankan semua kader.

Menurutnya, seluruh kandidat yang maju adalah kader terbaik, namun partai membutuhkan satu nakhoda untuk memimpin orga­nisasi.

Dengan terpilihnya Barnabas Orno, Hanura Maluku diharapkan dapat memperkuat konsolidasi internal dan meningkatkan kontribusi politik bagi masyarakat, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi Pemilu 2029. (S-26)

BERITA TERKAIT