AMBON, Siwalima.id - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Ambon mengancam kondisi kesehatan.
Sejumlah warga pada lokasi karhutla mengeluhkan sakit kepala, nyeri di area hidung, pilek, batuk hingga sesak napas setelah terpapar asap dalam beberapa hari terakhir.
Beberapa warga yang ditemui Siwalima pada sejumlah lokasi mengungkapkan rasa sakit pasca karhutla.
Novi, warga Negeri Rumah Tiga, Kecamatan Teluk Ambon mengaku mengalami sejumlah gejala tersebut sejak Jumat lalu. Namun, hingga kini dirinya belum mendapatkan pemeriksaan medis karena terkendala kepesertaan BPJS Kesehatan dan antrean panjang di puskesmas.
“Dari hari Jumat sudah rasakan sampai sekarang. Yang saya minum untuk penanganan itu paracetamol untuk meredakan sakit kepala. Kalau untuk obat yang lebih spesifik, harus ke puskesmas,” ujarnya kepada Siwalima di Ambon Rabu (14/10)
Untuk sementara, Novi hanya mengonsumsi paracetamol guna meredakan sakit kepala. Ia juga tetap menggunakan masker sebagai upaya melindungi diri dari paparan kabut asap.
Menurutnya, kondisi tersebut cukup mengganggu aktivitas sehari-hari. Sakit kepala yang dialami membuatnya kesulitan menjalankan kegiatan seperti biasa.
Ia turut menyoroti persoalan akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang belum memiliki BPJS Kesehatan maupun warga yang terkendala biaya.
“Orang yang tidak tahu soal kesehatan, apalagi terkendala BPJS dan lain sebagainya, itu menjadi permasalahan. Bisa berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan tidak mendapatkan penanganan,” katanya.
Selain Novi, keluhan serupa disampaikan Bertha, warga Karang Panjang, Kota Ambon. Ia mengaku mulai mengalami sakit kepala, nyeri di area hidung, pilek, batuk hingga sesak napas sejak dua hari terakhir.
Bertha mengatakan, sebelum kebakaran terjadi, kondisi kesehatannya baik-baik saja. Namun, setelah pulang kerja beberapa hari lalu, ia mulai merasakan sejumlah gangguan kesehatan yang membuatnya khawatir untuk beraktivitas.
“Beberapa hari lalu saya sehat-sehat saja. Tetapi saat terjadi kebakaran dan saya pulang kerja, saya sudah merasakan sakit kepala, nyeri di area hidung, pilek, batuk hingga sesak napas,” ungkapnya.
Ia mengaku belum mengetahui secara pasti penyebab gangguan kesehatan yang dialaminya. Setelah mencari informasi mengenai gejala tersebut, ia menduga keluhannya berkaitan dengan infeksi saluran pernapasan (ISPA).
“Yang saya rasakan setiap hari, kami cuma bisa menghirup asap, udara bercampur asap. Situasi saat ini bagi saya sangat buruk,” katanya.
Kondisi kabut asap yang menyelimuti Ambon juga membuat Bertha merasa khawatir untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Ia berharap kondisi udara segera membaik sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan aman.
Hal yang sama juga diungkapkan beberapa warga Gunung Nona.
Keluhan warga tersebut menjadi perhatian di tengah kondisi kabut asap akibat karhutla yang melanda Kota Ambon. Paparan asap dapat memicu iritasi pada hidung dan tenggorokan, batuk, serta memperburuk gangguan pernapasan.
Karena itu, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kabut asap masih pekat, menggunakan masker yang sesuai, serta menjaga kondisi kesehatan.
Warga yang mengalami sesak napas perlu segera mendapatkan pertolongan medis. Sementara itu, dugaan ISPA yang dialami warga perlu dipastikan melalui pemeriksaan tenaga kesehatan, bukan hanya berdasarkan gejala yang dirasakan.
800 Kasus Ispa
Dinas Kesehatan Kota Ambon mencatat peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sejak awal September 2026.
Peningkatan ini terjadi di tengah cuaca panas berkepanjangan dan memburuknya kualitas udara akibat kabut asap yang menyelimuti wilayah tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon, Johan Norimarna menjelaskan, peningkatan kasus ISPA mulai terlihat sejak minggu ke-35. Pada periode awal September, jumlah kasus yang tercatat meningkat dari kisaran 600 kasus menjadi lebih dari 800 kasus.
Meski demikian, Dinas Kesehatan belum dapat memastikan bahwa peningkatan kasus tersebut sepenuhnya disebabkan oleh paparan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.
Menurut Norimarna, ISPA dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti cuaca panas, debu, polusi kendaraan, asap pembakaran sampah, hingga paparan asap rokok di lingkungan rumah.
“Jadi kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa peningkatan ISPA ini karena kabut asap. Asap tetap punya pengaruh, tetapi ada juga faktor-faktor lain,” jelasnya kepada Siwalima di ruang kerjanya, Rabu (14/10)
Dikatakan, jumlah kasus ISPA mengalami fluktuasi dari waktu ke waktu. Karena itu, pemantauan secara berkelanjutan diperlukan untuk mengetahui perkembangan kasus, terutama di tengah kondisi kualitas udara yang kurang baik.
Dirinya pun mengimbau masyarakat untuk mengurangi paparan polusi udara, khususnya bagi anak-anak dan warga yang memiliki gangguan pernapasan.
Masyarakat juga diminta menghindari aktivitas yang dapat memperburuk kualitas udara, termasuk membakar sampah di sekitar permukiman. Norimarna menambahkan, upaya pencegahan perlu menjadi perhatian bersama guna mengurangi risiko gangguan pernapasan, terutama selama cuaca panas dan kabut asap masih memengaruhi kondisi udara di Kota Ambon.(S-30)