SIWALIMA.id > Berita
Daerah , Headline | Kamis, 15 Oktober 2026 pukul 14:36 WIT
Asap Selimuti Ambon, Warga Terpapar Ispa, Dinkes Temukan 800 Kasus

AMBON, Siwalima.id - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Ambon mengancam kondisi kesehatan.

Sejumlah warga pada lokasi karhutla mengeluhkan sakit kepala, nyeri di area hidung, pilek, batuk hi­ngga sesak napas setelah terpapar asap dalam beberapa hari terakhir.

Beberapa warga yang ditemui Siwalima pada sejumlah lokasi me­ng­ungkapkan rasa sakit pasca karhutla.

Novi, warga Negeri Rumah Tiga, Kecamatan Teluk Ambon mengaku mengalami sejumlah gejala tersebut sejak Jumat lalu. Namun, hingga kini dirinya belum mendapatkan peme­rik­saan medis karena terkendala kepesertaan BPJS Kesehatan dan antrean panjang di puskesmas.

“Dari hari Jumat sudah rasakan sampai sekarang. Yang saya minum untuk penanganan itu paracetamol untuk meredakan sakit kepala. Kalau untuk obat yang lebih spesifik, harus ke puskesmas,” ujarnya kepada Siwalima di Ambon Rabu (14/10) 

Untuk sementara, Novi hanya mengonsumsi paracetamol guna meredakan sakit kepala. Ia juga tetap menggunakan masker sebagai upa­ya melindungi diri dari paparan kabut asap.

Menurutnya, kondisi tersebut cu­kup mengganggu aktivitas sehari-hari. Sakit kepala yang dialami membuatnya kesulitan menjalankan kegiatan seperti biasa.

Ia turut menyoroti persoalan ak­ses pelayanan kesehatan bagi mas­yarakat yang belum memiliki BPJS Kesehatan maupun warga yang terkendala biaya.

“Orang yang tidak tahu soal kesehatan, apalagi terkendala BPJS dan lain sebagainya, itu menjadi permasalahan. Bisa berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbu­lan-bulan tidak mendapatkan pena­nganan,” katanya.

Selain Novi, keluhan serupa disampaikan Bertha, warga Karang Panjang, Kota Ambon. Ia mengaku mulai mengalami sakit kepala, nyeri di area hidung, pilek, batuk hingga sesak napas sejak dua hari terakhir.

Bertha mengatakan, sebelum ke­ba­karan terjadi, kondisi kesehatan­nya baik-baik saja. Namun, setelah pulang kerja beberapa hari lalu, ia mulai merasakan sejumlah gangguan kesehatan yang membuatnya kha­watir untuk beraktivitas.

“Beberapa hari lalu saya sehat-sehat saja. Tetapi saat terjadi keba­karan dan saya pulang kerja, saya sudah merasakan sakit kepala, nyeri di area hidung, pilek, batuk hingga sesak napas,” ungkapnya.

Ia mengaku belum mengetahui secara pasti penyebab gangguan ke­sehatan yang dialaminya. Setelah mencari informasi mengenai gejala tersebut, ia menduga keluhannya berkaitan dengan infeksi saluran pernapasan (ISPA).

“Yang saya rasakan setiap hari, kami cuma bisa menghirup asap, uda­ra bercampur asap. Situasi saat ini bagi saya sangat buruk,” katanya.

Kondisi kabut asap yang menye­limuti Ambon juga membuat Bertha merasa khawatir untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Ia berharap kondisi udara segera membaik sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan aman.

Hal yang sama juga diungkapkan beberapa warga Gunung Nona.

Keluhan  warga tersebut menjadi per­hatian di tengah kondisi kabut asap akibat karhutla yang melanda Kota Ambon. Paparan asap dapat memicu iritasi pada hidung dan tenggorokan, batuk, serta memper­buruk gangguan pernapasan.

Karena itu, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kabut asap masih pekat, menggunakan masker yang sesuai, serta menjaga kondisi kesehatan.

Warga yang mengalami sesak napas perlu segera mendapatkan pertolongan medis. Sementara itu, dugaan ISPA yang dialami warga perlu dipastikan melalui peme­riksaan tenaga kesehatan, bukan hanya berdasarkan gejala yang dirasakan.

800 Kasus Ispa

Dinas Kesehatan Kota Ambon mencatat peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sejak awal September 2026. 

Peningkatan ini terjadi di tengah cuaca panas berkepanjangan dan memburuknya kualitas udara akibat kabut asap yang menyelimuti wila­yah tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Am­bon, Johan Norimarna menje­las­kan, peningkatan kasus ISPA mulai terlihat sejak minggu ke-35. Pada periode awal September, jumlah kasus yang tercatat meningkat dari kisaran 600 kasus menjadi lebih dari 800 kasus.

Meski demikian, Dinas Kesehatan belum dapat memastikan bahwa pe­ningkatan kasus tersebut sepenuh­nya disebabkan oleh paparan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.

Menurut Norimarna, ISPA dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti cuaca panas, debu, polusi kenda­raan, asap pembakaran sampah, hi­ngga paparan asap rokok di ling­kungan rumah.

“Jadi kita tidak bisa langsung me­nyimpulkan bahwa peningkatan ISPA ini karena kabut asap. Asap tetap pu­nya pengaruh, tetapi ada juga faktor-faktor lain,” jelasnya kepada Siwa­lima di ruang kerjanya, Rabu (14/10)

Dikatakan, jumlah kasus ISPA mengalami fluktuasi dari waktu ke waktu. Karena itu, pemantauan secara berkelanjutan diperlukan untuk mengetahui perkembangan kasus, terutama di tengah kondisi kualitas udara yang kurang baik.

Dirinya pun mengimbau mas­yarakat untuk mengurangi paparan polusi udara, khususnya bagi anak-anak dan warga yang memiliki ga­ngguan pernapasan.

Masyarakat juga diminta meng­hindari aktivitas yang dapat mem­perburuk kualitas udara, termasuk membakar sampah di sekitar per­mukiman. Norimarna menambahkan, upaya pencegahan perlu menjadi perhatian bersama guna mengurangi risiko gangguan pernapasan, teruta­ma selama cuaca panas dan kabut asap masih memengaruhi kondisi udara di Kota Ambon.(S-30)

BERITA TERKAIT