AMBON, Siwalima.id - Ratusan akademisi dan peneliti dari berbagai Negara menghadiri konferensi internasional yang digelar program pascasarjana Universitas Pattimura di salah satu hotel di Kabupaten Maluku Tengah.
Konferensi internasional ini mengusung tema “Innovative and Collaborative Approaches to Optimizing Marine, Agricultural and Archipelagic Resources for Sustainable National Development”, ini berfokus pada penguatan inovasi dan kolaborasi riset dalam pengelolaan sumber daya kelautan, pertanian, dan kepulauan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.
Direktur Program Pascasarjana Unpatti, Richard B. Luhulima, mengatakan, The 2nd International Conference on Environmental Science and Archipelagic Studies (ICESAS) merupakan forum ilmiah untuk membangun jejaring akademik.
Selain itu untuk bertukar pengetahuan dan merumuskan solusi atas persoalan lingkungan serta tantangan pembangunan berkelanjutan.
Dirinya mengaku konferensi internasional menjadi puncak peringatan Dies Natalis ke-22 Program Pascasarjana Unpatti dengan menghadirkan akademisi dan peneliti Filipina, Irak, Jepang, Malaysia, India, Timor-Leste, Australia dan Hungaria.
Menurut Richard, karakteristik Maluku sebagai provinsi kepulauan memiliki peluang besar dalam pengembangan sektor kelautan, pertanian dan sumber daya pesisir.
Namun, pemanfaatan potensi tersebut harus diimbangi dengan penguatan ilmu pengetahuan, inovasi teknologi, serta kerja sama lintas disiplin dan lintas negara.
Berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim, kerentanan ekosistem, ketahanan pangan, hingga keterbatasan penguasaan teknologi, membutuhkan penelitian yang mampu menjawab persoalan nyata di masyarakat.
Menjawab tantangan tersebut tidak cukup hanya dengan mengandalkan sumber daya alam dan teknologi.
“Dibutuhkan inovasi, pemikiran yang bertanggung jawab, serta kolaborasi internasional yang kuat,” ungkapnya.
Richard menambahkan, keberhasilan penelitian tidak hanya diukur dari publikasi ilmiah, tetapi juga dari kontribusinya terhadap pengembangan inovasi, penyusunan rekomendasi kebijakan dan penerapan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut tambahnya, menghadirkan keynote speakers dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia dan luar negeri.
Keenam pembicara tersebut adalah Wilma Latuny dari Unpatti (Indonesia), Amanda Reichelt-Brushett dari Southern Cross University (Australia), Koichi Murata dari Nihon University (Jepang), Saon Banerjee dari Bidhan Chandra Krishi Viswavidyalaya (India), Peter Starausz dari Corvinus University of Budapest (Hungaria), serta Aditya Wibawa Sakti dari Waseda University (Jepang).
Kehadiran para akademisi tersebut membuka ruang pertukaran pengalaman dan hasil penelitian dari berbagai bidang keilmuan.
Diskusi dalam konferensi diharapkan dapat memperkaya perspektif mengenai pengelolaan sumber daya alam, pengembangan pertanian, perlindungan lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan, khususnya di wilayah kepulauan.
Dari total 137 peserta lanjutnya, sebanyak 81 peserta mengikuti kegiatan secara daring (online), sedangkan 56 lainnya hadir secara langsung (onsite).
Partisipasi akademisi dari delapan negara ini lanjutnya, menjadi peluang bagi Unpatti untuk memperluas pertukaran gagasan sekaligus membangun kemitraan penelitian lintas negara.
Ia menambahkan, salah satu agenda penting ICESAS 2026 adalah penandatanganan Implementation Agreement oleh 15 ketua program studi di lingkungan Program Pascasarjana Unpatti bersama mitra internasional.
Pada kesempatan itu ada penandatanganan kerja sama melibatkan Amanda Reichelt-Brushett dari Southern Cross University, Australia dan Koichi Murata dari Nihon University, Jepang.
Kesepakatan ini diarahkan untuk memperkuat pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi melalui penelitian bersama, peningkatan publikasi ilmiah internasional, pertukaran pengetahuan, penguatan kompetensi masyarakat, serta kerja sama di bidang pendidikan dan pelestarian lingkungan.
“Kolaborasi tersebut diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui program kerja yang terukur sehingga memberikan manfaat bagi institusi, peneliti, mahasiswa dan masyarakat,” harapnya.
Sebelumnya, kegiatan dibuka secara resmi oleh Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa.
Dalam sambutannya, gubernur mengajak perguruan tinggi dan pemerintah memperkuat sinergi dalam mengoptimalkan potensi sumber daya alam berbasis ilmu pengetahuan.
Menurut dia, hasil penelitian perguruan tinggi perlu diterjemahkan menjadi kebijakan, program, dan tindakan nyata yang memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Dirinya berharap ICESAS dapat menghasilkan gagasan dan rekomendasi strategis untuk mendukung pembangunan Maluku yang bijaksana, inklusif dan berkelanjutan.
“Pengembangan potensi kelautan, pertanian dan ekosistem pesisir Maluku membutuhkan dukungan penelitian yang kuat, inovasi sesuai kebutuhan daerah, serta kemitraan erat antara pemerintah, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan,” harapnya.(S-25)