AMBON, Siwalima.id – Upaya memperkuat kerukunan dan persaudaraan di tengah keberagaman warga Kota Ambon terus didorong melalui berbagai inovasi.
Salah satu inovasi adalah, Aksa Harmoni atau Akselerasi Pembauran Sosial dan Penguatan Persaudaraan Lintas SARA Menuju Ambon Rumah Basudara. Inovasi ini merupakan, sebuah proyek perubahan yang digagas Kepala Kesbangpol Kota Ambon Oldrin Parinussa.
Inovasi ini dirancang untuk memperkuat pembauran sosial antar suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA), sekaligus membangun sistem pencegahan dini terhadap potensi konflik sosial di Kota Ambon.
Gagasan inovasi ini berangkat dari kekuatan sosial dan budaya masyarakat Maluku yang memiliki nilai-nilai kearifan lokal, seperti Pela Gandong dan Siwalima. Nilai-nilai tersebut selama ini menjadi perekat persaudaraan masyarakat dalam membangun kehidupan yang damai, rukun, dan saling menghargai.
Namun, dinamika kehidupan masyarakat perkotaan membutuhkan pendekatan yang lebih sistematis dan berkelanjutan untuk menjaga keharmonisan lintas kelompok.
Oldrin menilai, menjaga perdamaian tidak cukup hanya dengan menangani konflik ketika terjadi. Pemerintah dan masyarakat perlu memperkuat langkah pencegahan melalui pemetaan potensi konflik, deteksi dini, serta peningkatan interaksi sosial antar kelompok.
“Perdamaian tidak boleh hanya dimaknai sebagai keadaan ketika tidak terjadi konflik. Perdamaian harus dibangun melalui interaksi sosial yang sehat, rasa saling percaya, penghormatan terhadap perbedaan, dan kesadaran bahwa kita semua adalah orang basudara," papar Oldrin.
Oldrin mengaku, dalam pelaksanaannya, Aksa Harmoni dikembangkan melalui enam strategi utama yang saling terintegrasi. Pertama, Peta Harmoni, yakni pengembangan basis data dan pemetaan potensi konflik sosial sebagai dasar perencanaan kebijakan dan pengambilan keputusan.
Kedua, Pela Gandong Untuk Semua, berupa revitalisasi nilai-nilai kearifan lokal Pela Gandong sebagai kekuatan pemersatu masyarakat lintas SARA. Ketiga, Ruang Basudara, yakni penyediaan ruang interaksi dan perjumpaan antar komunitas untuk membangun komunikasi, solidaritas, toleransi dan kepercayaan sosial.
Keempat, Duta Harmoni Pemuda Ambon, dengan melibatkan generasi muda sebagai agen perubahan dan pelopor perdamaian di lingkungan masyarakat. Kelima, Harmony Early Warning System, yaitu penguatan sistem deteksi dini terhadap potensi konflik sosial, melalui pendekatan berbasis data, informasi, dan kolaborasi lintas sektor.
“Yang Keenam, Duta Damai Maya, yakni gerakan membangun ruang digital yang sehat melalui edukasi dan pencegahan penyebaran hoaks, ujaran kebencian, serta provokasi bernuansa SARA,” urai Oldrin.
Implementasi inovasi ini, membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Pemerintah daerah tidak dapat bekerja sendiri dalam menjaga stabilitas sosial.
Karena itu, inovasi ini mendorong kolaborasi dengan aparat keamanan, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuda, komunitas, akademisi, media, pelaku UMKM, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Melalui kolaborasi tersebut, diharapkan terbentuk ekosistem pembauran sosial yang mampu memperkuat ketahanan masyarakat terhadap ancaman konflik, termasuk provokasi dan penyebaran informasi yang berpotensi memecah belah persaudaraan.
“Generasi muda juga ditempatkan sebagai salah satu kekuatan utama dalam menjaga keberlanjutan perdamaian,” tulis Oldrin.
Pemuda juga kata oldrin, diharapkan tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi tampil sebagai pelaku utama dalam menumbuhkan budaya toleransi, solidaritas, dan persaudaraan lintas kelompok. Dalam periode pelaksanaan 2026-2029, proyek perubahan inovasi diarahkan untuk mencapai sejumlah target strategis.
Target tersebut meliputi pembentukan Tim Aksa Harmoni, penyusunan Peta Harmoni, serta pembentukan 50 Duta Harmoni Pemuda Ambon. Selain itu, program ini menargetkan terselenggaranya ruang interaksi lintas komunitas melalui Ruang Basudara, pembangunan sistem peringatan dini untuk mendukung deteksi dan pencegahan konflik, serta pembentukan Duta Damai Maya sebagai gerakan literasi digital.
Melalui inovasi ini diharapkan menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat pembauran sosial dan menjaga persaudaraan masyarakat di tengah keberagaman. Dengan semangat Pela Gandong dan Siwalima, Ambon diharapkan semakin kokoh sebagai kota yang menjunjung tinggi toleransi, persatuan, dan nilai-nilai hidup orang basudara.(S-30)