AMBON, Siwalimanews – Pemerintah Maluku saat ini tengah menyiapkan bantuan sosial sektor informal dan stimulus ekonomi untuk menjaga daya beli di tengah tekanan ekonomi akibat wabah Covid-19.
Status tanggap darurat yang diterapkan akibat wabah virus corona, membuat peÂkerja di sektor informal dan UMKM tak bekerja maksimal.
Pendapatan usaha UMKM âpupusâ sehingga mereka kesuÂlitan untuk membayar biaya-biaya dan gaji atau honor pekerja.
Gubernur Maluku, Murad Ismail sudah menyatakan akan menyiapkan bantuan sosial untuk mengatasi damÂpak Corona ini, sedikitnya 100 milyar.
âSaya sudah berbincang-bincang dengan sekda, jadi nanti kita akan siapkan anggaÂran 50-100 milyar untuk penaÂnganan masalah Covid-19,â kata gubernur saat meÂlepas armada penyemprotan disinÂfekÂtan di Lapangan Merdeka Ambon, Selasa (31/3) lalu.
Jumlah itu mungkin saja bisa bertambah, mengingat besarnya bantuan sosial unÂtuk menyokong sektor informal dan pekerja harian, serta memberi stimulus bagi usaha kecil, mikro dan menengah.
âAnggaran tadi dapat diguÂnakan untuk pemberian santuÂnan kepada masyarakat kurang mampu terutama tuÂkang ojek, supir angkot, tuÂkang becak, pegawai perhoÂtelan dan pertokoan,â ujarnya.
Untuk memastikan ketersediaan anggaran tersebut gubernur telah meminta proyek yang tidak urgen ditangÂguhkan.
âKalau ada proyek yang tidak perlu segera hentikan, saya takut kalau proyek kita utamakan, maka masyarakat kita yang susah. Untuk itu, saya tidak mau ambil resiko,â tandasnya.
Sementara Susun
Sekda Maluku Kasrul Selang mengaku, pihaknya sementara menyusun anggaran yang dibutuhkan untuk penanggulaÂngan dampak sosial ekonomi akibat Covid-19. Anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp 100 miliar.
âMungkin minggu depan kita sudah bawa ke DPRD, dan untuk rincian kebutuhan anggaran dan peruntukkannya itu sedang kita susun,â terang Kasrul kepada Siwalima di kantor Gubernur Maluku, Jumat (3/4).
Menurutnya, Pemprov membuÂtuhkan anggaran sekitar Rp 150 miliar, dimana Rp 50 miliar untuk penanganan Covid-19. Sedangkan Rp 100 miliar untuk penanggulaÂngan dampak sosial ekonomi.
âUntuk 100 miliar sekarang, kita lagi cari polanya, dan kemarin kita sudah lapor di DPRD dan mereka sangat menunjang untuk melakuÂkan realokasi anggaran. Jadi kita butuh lebih kurang Rp. 150 milar, 50 miliar untuk penanganan Covid-19, 100 miliar untuk antisipasi ketahanan ekonomi, pengaman sosial,â kata Kasrul.
Kasrul mengaku, anggaran daerah saat ini tidak cukup untuk mengatasi dampak sosial ekonomi dan penanganan Covid-19. Olehnya akan dimintakan bantuan dari kementerian terkait.
âKita akan usahakan anggaran dari kementerian, tapi kalau tidak bisa lagi, kita punya APBD benteng terakhir,â ujar Kasrul.
Pemprov Maluku sudah menyuÂ-rati Kementerian Sosial, KemenÂterian PUPR, Kementerian KopeÂrasi dan UKM, Kementerian LingÂ-kungan Hidup dan Kehutanan mauÂpun Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk meminta bantuan. âJadi sudah hitung seberapa besar petani, nelayan termasuk tukang ojek dan lainnya yang terganggu dengan kondisi saat ini,â tandas Kasrul.
Lanjut Kasrul, kalau sudah selesai disusun oleh Bappeda dan bagian keuangan akan segera diusulkan ke DPRD untuk dibahas.
âLambat cepatnya usulan ke DPRD tergantung proses pengitungan dari teman-teman Bappeda maupun bagian keuangan, dan dinas terkait karena di dinas untuk lihat mana proyek-proyek yang ditunda di tahun depan. Kalau proyek ditunda di tahun depan, berarti anggaran dipakai untuk hal ini,â ujarnya.
Belum Diusulkan
Wakil Ketua DPRD Provinsi Maluku, Melkias Saerdekut, mengaku, anggaran Rp 100 miliar untuk membiayai dampak sosial ekonomi akibat pencegahan dan penanganan Covid-19 belum diusulkan ke DPRD.
âRincian perubahan anggaran dari pemerintah daerah berkaitan dengan penanggulangan Covid-19 dan lainya di Maluku belum kami terima,â kata Melkias Saerdekut, kepada Siwalima di kantor DPRD Maluku, Karang Panjang, Jumat (3/4).
Lanjut Saerdekut, pembahasan anggaran maupun perubahan anggaran harus dilakukan pemprov dan DPRD. Tidak hanya pemerintah daerah sendiri, karena dibutuhkan pengesahan bersama.
âYah namanya anggaran itu mesti disahkan oleh DPRD bersama Pemda, apalagi dalam anggaran yang jumlahnya besar,â tandasnya.
Saerdekut berharap Sekda untuk secepatnya menyampaikan rencana revisi anggaran agar dibahas bersama dengan DPRD.
âJadi diharapan secepatnya dimasukan, sehingga kita melihat kebutuhan penambahan anggaranya, berapa banyak, diperuntukan untuk kebutuhan apa saja dan diambil dari pos mana saja,â ujarnya. (Mg-4/S-39)