WAKIL Walikota Ambon, Ely Toisutta, mendukung peluncuran proyek perubahan Sadar IVA yang digagas Dinas Kesehatan Kota Ambon untuk meningkatkan kesadaran perempuan terhadap pentingnya deteksi dini kanker serviks.
Dukungan tersebut disampaikan saat membuka kegiatan Launching dan Talkshow Proyek Perubahan Sempe IVA (Sadar, Ajak, Edukasi, dan Mau Periksa IVA) di Swiss-Belhotel Ambon, Kamis (29/10)
Program yang digagas Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon, Johan Norimana tersebut bertujuan memberdayakan perempuan melalui edukasi dan peningkatan kesadaran untuk melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi sejak dini.
Wawali menegaskan, kesehatan perempuan merupakan investasi penting bagi masa depan keluarga dan masyarakat. Karena itu, upaya pencegahan kanker serviks membutuhkan dukungan pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi perempuan, keluarga, serta masyarakat.
Menurutnya, kanker serviks perlu mendapat perhatian serius karena penyakit tersebut dapat berkembang tanpa menunjukkan gejala pada tahap awal. Kondisi ini membuat deteksi dini menjadi langkah penting untuk mengetahui risiko dan memperoleh penanganan sesuai kebutuhan medis.
Pemeriksaan melalui metode Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) maupun tes HPV DNA dapat dimanfaatkan sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.
Namun, peningkatan kesadaran masyarakat tidak cukup hanya dengan menyediakan layanan pemeriksaan. Rasa takut, malu, keterbatasan informasi, dan anggapan bahwa pemeriksaan kesehatan reproduksi merupakan hal tabu masih menjadi tantangan.
Ia mengajak perempuan agar tidak menunda pemeriksaan dan lebih peduli terhadap kesehatan diri.
Ia juga meminta kader PKK, kader Posyandu, dan tenaga kesehatan berperan aktif menyampaikan informasi yang benar, memberikan edukasi secara santun, serta mendampingi perempuan agar berani memanfaatkan layanan kesehatan.
Pelayanan, lanjutnya, harus dilakukan secara profesional dengan tetap menjaga privasi dan kenyamanan pasien.
Sementara itu, Ketua TP-PKK Kota Ambon, Lisa Wattimena, turut mengajak perempuan untuk tidak takut menjalani pemeriksaan kesehatan reproduksi.
Ia mengatakan, perempuan sering kali lebih mengutamakan kebutuhan keluarga dibandingkan kesehatan dirinya sendiri. Padahal, menjaga kesehatan merupakan bagian dari tanggung jawab terhadap keluarga.
“Menjaga kesehatan diri bukanlah bentuk egoisme. Menjaga kesehatan diri adalah bagian dari tanggung jawab kita terhadap keluarga yang kita cintai,” ujarnya.
Ia menilai, rasa takut dan malu tidak boleh menjadi penghalang bagi perempuan untuk memperoleh informasi kesehatan yang benar.
Menurutnya, edukasi mengenai kanker serviks harus dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat semakin memahami manfaat deteksi dini dan tidak lagi menganggap pemeriksaan sebagai sesuatu yang memalukan.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan kader PKK dan Posyandu dalam menyebarluaskan informasi kesehatan hingga ke tingkat keluarga dan lingkungan tempat tinggal.
Dengan jaringan yang dekat dengan masyarakat, para kader diharapkan dapat menjadi penggerak edukasi sekaligus pendamping bagi perempuan yang membutuhkan informasi dan akses pelayanan kesehatan.
Dirinya berharap kegiatan tersebut tidak berhenti setelah talkshow selesai, tetapi dilanjutkan melalui edukasi di lingkungan masing-masing.
Ia juga mengajak keluarga, khususnya suami, untuk mendukung perempuan dalam menjaga kesehatan dan melakukan pemeriksaan apabila diperlukan.
“Keluarga yang sehat dibangun melalui pengetahuan, kepedulian, kebiasaan yang baik, dan keputusan untuk bertanggung jawab,” katanya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon, dr. Johan Norimarna mengatakan, Sempe IVA merupakan inovasi yang digagas bersama tim sebagai proyek perubahan dalam rangka mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II.
Ia menjelaskan, inovasi tersebut lahir dari pemikiran bahwa deteksi dini kanker serviks tidak cukup dilakukan dengan menyediakan layanan kesehatan. Diperlukan pula peningkatan kesadaran, edukasi, dan keberanian perempuan untuk menjalani pemeriksaan.
Melalui gerakan Sadar, Ajak, Edukasi, dan Mau Periksa IVA, perempuan diharapkan semakin peduli terhadap kesehatan reproduksi, saling mengajak melakukan pemeriksaan, serta memanfaatkan layanan IVA dan HPV DNA sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Kadis menegaskan, keberhasilan program membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, termasuk pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi perempuan, kader, keluarga, dan masyarakat.
Ia berharap inovasi tersebut tidak berhenti sebagai proyek perubahan dalam pelatihan, tetapi berkembang menjadi gerakan berkelanjutan yang memberikan manfaat nyata bagi perempuan di Kota Ambon.
“Sebagai penggagas inovasi ini, saya bersama tim berkomitmen untuk mendorong agar Sempe IVA tidak berhenti sebagai proyek perubahan dalam pelatihan semata, tetapi dapat dikembangkan menjadi gerakan berkelanjutan yang memberikan manfaat nyata bagi perempuan di Kota Ambon,” ujarnya.
Kadis juga mengajak seluruh peserta menjadi bagian dari gerakan tersebut dengan meneruskan pesan pentingnya deteksi dini kepada keluarga dan lingkungan masing-masing.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Ambon, Wakil Walikota Ambon, Ketua TP-PKK, Dharma Wanita Persatuan, narasumber, serta para kader kesehatan atas dukungan terhadap upaya pencegahan kanker serviks.
Melalui peluncuran Sempe IVA, ia berharap semakin banyak perempuan memahami pentingnya pemeriksaan dini, berani mengakses pelayanan kesehatan, dan memperoleh penanganan yang tepat. Kolaborasi lintas sektor diharapkan mampu memperkuat pemberdayaan perempuan sekaligus membangun kesadaran masyarakat bahwa pencegahan kanker serviks merupakan tanggung jawab bersama.(S-30)