AMBON, Siwalima.id - Walikota Ambon, Bodewin Wattimena meminta para siswa terkhusus di SMP Negeri 4 Ambon untuk tidak takut bermimpi.
Hal ini dikatakan walikota ketika membagikan kisah perjuangan masa kecilnya saat kegiatan ko kurikuler kelas VII SMP Negeri 4 Ambon yang bertemakan “Aku dan Prestasiku”, Kamis (8/10).
Dihadapan kepala sekolah, guru, pengurus OSIS dan para siswa, dirinya mengatakan pendidikan tidak hanya mengejar kemampuan akademik.
Pendidikan juga harus membentuk karakter siswa agar mampu menghadapi kehidupan dan menjauhi pengaruh negatif.
Pemerintah Kota Ambon hari ini berupaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di kota ini.
“Upaya meningkatkan kualitas pendidikan itu dilakukan dalam berbagai hal, mulai dari penyediaan sarana dan prasarana, mendukung kurikulum, penguatan kapasitas guru, hingga memberikan peran kepada komite sekolah,” kata walikota.
Selain itu ia mengingatkan agar meningkatkan kualitas anak didik. Peningkatan kualitas anak didik ini mesti komprehensif. Cerdas secara intelektual, tapi juga karakter.
Walikota kemudian membuka cerita tentang masa kecilnya di Negeri Siwang. Ia lahir pada 4 Mei 1974 dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai petani, sementara ibunya berjualan sebagai papalele.
Rumah keluarganya kala itu hanya berdinding bambu. Sejak sekolah dasar dan dirinya juga harus berjalan kaki dalam kondisi gelap untuk menuju sekolah.
“Jam setengah lima pagi sudah berjalan, membawa obor menuju sekolah. Sampai di tengah jalan ketika matahari sudah terbit, obor dilepas,” ujarnya.
Ia bersekolah di SD Kristen Seri, hingga kelas III sebelum melanjutkan pendidikan di Kota Ambon. Dirinya juga berjualan es dan kue untuk membantu keluarga sekaligus memenuhi kebutuhan sekolah.
“Pagi-pagi saya berjalan jual kue di perusahaan Batu Gong, di barak-barak karyawan. Setelah menjual, pulang, kemudian sekolah,” katanya.
Kebiasaan itu terus dilakukan hingga dirinya duduk di bangku SMA. Keterbatasan ekonomi juga membuatnya harus menghadapi minimnya buku pelajaran.
Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti belajar. Setelah lulus SMA, dirinya sempat berpikir untuk bekerja di perusahaan Batu Gong karena kondisi ekonomi keluarganya. Rencana itu berubah setelah ia mengikuti seleksi masuk STPDN pada 1993.
“Dari 35 orang yang diterima tahun 1993 itu, beta ada di 35 itu. Syukur, beta (saya) bisa sekolah di STPDN,” ujarnya.
Mantan Sekwan Maluku menilai pengalaman hidup sejak kecil justru membentuk karakter dan mentalnya.
“Bagi beta, itu yang membentuk karakter, membentuk mental petarung, mental pejuang untuk jadi orang,” katanya.
Pada kesempatan itu dirinya mengingat pesan kepala sekolah sewaktu masih duduk di bangku sekolah yang masih diingatnya hingga kini.
“Waktu itu kepala sekolah bilang, ‘Siapa tahu bisa-bisa walikota Ambon’,” ungkapnya.
Pesan tersebut kemudian terus disampaikan sang ibu setiap kali dirinya memasuki jenjang pendidikan baru.
“Jadi waktu beta masuk SMP, mama bilang, belajar baik-baik. Siapa tahu bisa-bisa jadi walikota. Beta lulus, masuk SMA, sama pesannya. Sampai STPDN, sama pesannya,” tuturnya.
Dirinya juga meminta para siswa membangun kebiasaan positif sejak dini dan tidak melihat keadaan saat ini sebagai batas masa depan.
“Cerdas intelektual didukung dengan karakter yang baik, jalan masa depan terbuka luas,” pesannya.
Sementara itu, Kepala SMP Negeri 4 Ambon, Kustanto mengatakan kegiatan tersebut diikuti siswa kelas VII dan pengurus OSIS. Dari sekitar 894 siswa, kegiatan pembelajaran di sekolah tersebut dilaksanakan dalam dua sif.
Menurut Kustanto, kegiatan kokurikuler tidak sekadar memperkuat materi pembelajaran, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun karakter siswa.
“Sesungguhnya kegiatan kokurikuler ini memperkuat karakter anak. Itu yang paling utama,” kata Kustanto.
Ia berharap cerita perjuangan Bodewin dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa tentang pentingnya pendidikan, kerja keras dan karakter.
“Pada waktunya anak-anak ini akan menjadi calon pemimpin di negeri ini dan tentu saja akan menggantikan kita,” ujarnya.
Kustanto menambahkan, SMP Negeri 4 Ambon terus membangun budaya sekolah yang aman, nyaman dan bebas dari perundungan maupun diskriminasi.
Sekolah juga menjalin kemitraan dengan BNN, Dinas Kesehatan dan kepolisian untuk mendukung pendidikan karakter serta perlindungan peserta didik.
“Kami sudah mendeklarasikan sebagai sekolah yang memiliki budaya aman, nyaman, anti-diskriminatif,” katanya.
Ia menegaskan seluruh warga sekolah merupakan satu keluarga besar. Karena itu, tidak boleh ada kekerasan, bullying maupun diskriminasi berdasarkan ras, agama dan budaya.
Dirinya berharap kisah perjuangan walikota tidak hanya menginspirasi siswa yang hadir. Pihak sekolah juga berencana membagikan cerita tersebut melalui media sosial sekolah, agar dapat menjadi motivasi bagi siswa lainnya.(S-30)