SIWALIMA.id > Berita
Daerah | Rabu, 4 November 2026 pukul 13:35 WIT
Pemkot Usulkan RSUD Hutumuri Naik Tipe C

AMBON, Siwalima.id - Walikota Ambon, Bodewin Wattimena menyebut Pemerintah Kota Ambon telah mengusulkan ke Kementerian Kesehatan agar RSUD dr WEM Tehupeiory, Hutumuri naik ke tipe C.

Saat ini status RSUD Hutumuri masih berstatus tipe C karena me­miliki fasilitas dan kemampuan pe­layanan medis spesialistik terbatas.

fasilitas yang dimiliki meliputi ruang Poli Gigi, Medical Check Up (MCU), laboratorium, Poli P2, Ruang Nusaniwe 1, ruang operasi, ruang anak, Unit Pelayanan Khusus (UPK), hingga ruang fisioterapi.

“Langkah ini dilakukan untuk memperluas akses pelayanan kese­hatan bagi masyarakat yang selama ini harus menempuh perjalanan jauh ke pusat Kota Ambon,” kata wali­kota saat meninjau langsung sejum­lah ruangan di RSUD Hutumuri, Selasa (3/11).

Dalam kunjungan itu, dirinya didampingi Sekot Roby Sapulette mengecek langsung sejumlah rua­ngan dan fasilitas pelayanan rumah sakit milik pemerintah kota tersebut.

Menurutnya, keputusan mengem­bangkan puskesmas menjadi rumah sakit daerah didasarkan pada keter­batasan fasilitas kesehatan di Keca­matan Leitimur Selatan.

Dijelaskan, selama ini masyarakat Leitisel yang membutuhkan pertolongan medis harus menuju pusat kota dengan jarak yang cukup jauh.

“Kita melihat fasilitas kesehatan di Leitimur ini masih terbatas. Kalau masyarakat membutuhkan pertolongan, mereka harus ke pusat kota dan jaraknya cukup jauh. Karena itu, kita membangun rumah sakit umum daerah di sini,” katanya.

RSUD tersebut tetap menjalankan pelayanan sembari Pemkot Ambon mengusulkan pembangunan rumah sakit tipe C kepada pemerintah pusat.

Selain pengembangan fasilitas, Pemkot Ambon juga menyiapkan lahan sekitar 4 hektar lahan untuk mendukung pengembangan rumah sakit tersebut.

Lahan itu berasal dari hibah dan dukungan pemerintah Negeri  Hutumuri sebagaimana disampaikan dalam peninjauan.

Ia menegaskan, pembangunan rumah sakit di wilayah Leitisel bukan sekadar untuk meningkatkan pendapatan daerah.

Pemerintah ingin memastikan masyarakat di kawasan tersebut mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang lebih dekat dan memadai.

“Jadi, kita membangun rumah sakit ini bukan hanya soal bagaimana memperoleh pendapatan daerah. Yang kita inginkan adalah masyarakat terlayani. Walaupun BPJS-nya sementara tidak aktif atau belum bisa diproses, mereka tetap dilayani di rumah sakit ini,” tegasnya.

Dia menyebutkan, rumah sakit tersebut juga diharapkan menjadi fasilitas kesehatan bagi masyarakat kurang mampu, khususnya kelompok desil 1 hingga desil 4, yang dapat memperoleh pelayanan secara gratis sesuai ketentuan.

Ia mencontohkan ada pasien yang sebelumnya ditolak di beberapa rumah sakit, tetapi kemudian mendapatkan penanganan di RSUD dr. W.E.M. Tehupeiory hingga sembuh dan diperbolehkan pulang.

Terkait kebutuhan tenaga kesehatan dan pegawai, walikota menyebutkan saat ini rumah sakit didukung sekitar 60 pegawai. Jumlah tersebut direncanakan bertambah menjadi sekitar 100 orang apabila pengembangan rumah sakit terealisasi.

Pemerintah kota juga mempertimbangkan penyediaan kendaraan antar jemput pasien untuk mempermudah masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan. “Pengembangan rumah sakit ini merupakan kebutuhan jangka panjang. Sebab, pemerataan fasilitas kesehatan harus menjangkau masyarakat yang tinggal jauh dari pusat perkotaan,” janjinya.

Ia menyebut rumah sakit di dalam kota memang sudah cukup banyak. Tetapi bagaimana dengan saudara-saudara di Leitisel?

“Mereka juga harus mendapatkan fasilitas kesehatan dan pelayanan yang layak,” tutupnya.(S-30)

BERITA TERKAIT