AMBON, Siwalimanews – Gubernur Murad Ismail meneÂ-gaskan, orang luar Maluku atau pendatang yang masuk ke Maluku melalui Bandara Pattimura wajib diisolasi selama 14 hari.
Pemprov Maluku teÂlah menyediakan Balai Diklat untuk mengisoÂlasi mereka. Hal ini diÂlakukan untuk menceÂgah penyebaran virus corona.
âLangkah pencegaÂhan kali ini adalah meÂwajibkan setiap pendaÂtang atau orang luar daerah terlebih dari Pulau Jawa yang baru tiba di Ambon untuk diÂisolasi selama 14 haÂri,â tegas Murad kepaÂda wartawan di Kantor Gubernur Maluku, SeÂlasa (24/3).
Siapa pun orang luar yang datang, kata MuÂrad, wajib diisolasi demi mengamankan masyarakat Maluku dari penyebaran virus corona.
âSekarang saja pesawat yang terbang dari Jakarta menurun sekali, sekitar 800 orang per hari dan yang datang itu kita perkirakan 20 persen dari 800 penumpang pesawat orang luar. Itu lumayan juga 40 orang orang luar. Tadi saya bicara dengan pak Kasrul nanti kita bagi dalam dua. Begitu mereka (orang luar daerah) datang di Maluku, kita isolasi mereka selama 14 hari di balai diklat,â tandasnya.
Murad mengatakan, sebanyak 1000 tempat tidur di Balai Diklat Maluku telah disiapkan untuk meÂngisolasi para pendatang.
âKita isolasi mereka di Diklat, kita sudah siapkan tempat tidur 1000. Jadi setiap hari orang luar yang datang di Maluku, kita pasti isolasi,â ujarnya.
Jika yang tidak mau diisolasi seÂlama 14 hari, kata Murad, akan disuÂruh kembali ke daerah asalnya. âKaÂlau mereka nggak suka, ya kita suru kembali ke daerah asal,â tegasnya.
Sementara bagi warga Maluku yang baru dari luar daerah, mereka diwajibkan untuk karantina mandiri di rumah selama 14 hari. âYang daÂtang yang asli orang Maluku tetap kita isolasi di rumah masing-masing,â tandasnya.
Murad mengatakan, yang paling penting saat ini adalah menjaga jaÂrak untuk mencegah penyebaran virus corona. âKalau ini kita tidak disiplin, berarti kita selesai,â ujarnya.
Murad juga mengatakan, Pemprov Maluku telah meminta 1000 rapid test untuk mendeteksi corona ke pemerintah pusat. âKita sudah peÂsan rapid test 1000, tapi belum daÂtang,â ujarnya lagi.
Pesan Presiden
Murad juga menjelaskan, berdaÂsarkan rapat terbatas melalui teleconference bersama Presiden Joko Widodo, Selasa (24/3), ada sejumlah poin yang disampaikan kepada para kepala daerah.
Hal penting yang disampaikan itu pertama, meminta para kepala daerah harus fokus terhadap tiga hal yaitu keselamatan dan kesehatan yang utama, serta jaringan pengÂamanan sosial atau bantuan sosial.
Kedua, presiden meminta para kepala daerah segera menghitung dampak ekonomi akibat penanganan dan pencegahan Covid-19 sehingga kesiapan dalam penyediaan stok pangan selalu ada.
Ketiga, kebijakan lockdown tidak dilakukan karena setiap negara mempunyai karakteristik wilayah berbeda dan pasien tetap memilih untuk tidak melaksanakan lockÂdown.
Keempat, melakukan terus jarak sosial atau social distancing sesuai budaya lokal daerah masing-masing, memangkas anggaran yang tidak prioritas dan perlu relokasi anggaran baik APBN maupun APBD untuk bantuan sosial, melaksanakan program padat karya tunai serta memÂperhatikan pekerja harian yang kehilangan pekerjaan, UMKM yang berdampak agar melakukan peÂnundaan cicilan selama 1 tahun suku bunga.
âBarusan kita rapat dengan KeÂpala Dinas Sosial bagaimana banÂtuan sosial diberikan kepada masyarakat-masyarakat yang betul-betul terÂdampak, masyarakat miskin yang terdampak Covid-19,â terang MuÂrad.
Jumlah ODP dan PDP Bertambah
Jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) di Maluku terus Bertambah.
âSampai dengan Rabu, 25 Maret pukul 12.00 WIT jumlah OPD di MaÂluku sebanyak 96 orang,â jelas Jubir Gugus Tugas Percepatan PenangÂguÂlangan Covid-19 Maluku, Meikyal Pontoh kepada wartawan di kantor gubernur, Rabu (25/3).
Ia merincikan, di Kota Ambon jumlah ODP sebanyak 23 orang, Kabupaten Malteng 6 orang, KaÂbupaten SBB 16 orang, Kabupaten SBT 1 orang, Kabupaten Buru 14 orang, Kota Tual 4 orang, KabupaÂten Kepulauan Tanimbar 26 orang dan Kabupaten Kepulauan Aru 6 orang.
Sebelumnya Selasa (24/3) hingga pukul 12.00 WIT jumlah ODP di Maluku 76 orang.
Sedangkan untuk PDPÂ naik menÂjadi 4 orang, masing-masing di Kota Ambon tiga orang dan satu lagi di Kabupaten Maluku Tengah.
âJadi untuk empat orang yang dinyatakan PDP kini sudah diisolasi di RSUD dr Haulussy,â terangnya.
Sebelumnya Selasa (24/3) hingga pukul 12.00 WIT, jumlah PDP di Maluku sebanyak 3 orang.
Pontoh juga menjelaskan, kalau proses tracking terhadap 14 teman pasien 01 sudah dilakukan oleh tim gugus tugas Pemkot Ambon.
âTracking sudah dilakukan mulai dari bandara sampai tempat pasien yang terkonfirmsi tinggal,â terang Pontoh.
Selain itu, spesimen 14 orang itu sudah diambil dan dikirim ke Batlibang Kementerian Kesehatan untuk diperiksa. Mereka juga sudah diisolasi di Balai Diklat Provinsi Maluku selama 14 hari.
âMereka memang sudah kita isolasi dan spesimen pun sudah diÂambil untuk diperiksa di laboraÂtorium,â jelasnya.
Kerja dari Rumah Diperpanjang
Pemprov Maluku memutuskan memperpanjang waktu kerja bagi ASN dari rumah terhitung 1 April hingga dua minggu kedepan.
âAwalnya kerja dari rumah diÂberÂlakukan mulai tanggal 16-31 Maret, namun melihat kondisi saat ini PemÂprov Maluku juga memperpanjang waktu kerja dua minggu kedepan terhitung mulai tanggal 1 April mendatang,â jelas Sekda Maluku, Kasrul Selang, kepada wartawan di kantor gubernur, Rabu (25/3).
Kebijakan juga diberlakukan bagi siswa SMA/SMK di Maluku. âJadi waktu belajar dari rumah ditambah dua minggu lagi, terhitung dari tanggal 1 April,â ujar Kasrul.
Semprot Disinfektan
Ketua Gugus Tugas Percepatan PeÂnanggulangan Covid-19 Kota AmÂbon, Syarif Hadler memastikan setelah dilakukan tracking terhadap 14 orang teman dari pasien 01, piÂhaknya segera melakukan penyemÂprotan disinfektan di tempat-tempat yang mereka pernah datangi.
âJadi kita semprot disinfektan dan juga kamar tempat pasien terkonÂfirmasi dan teman-temannya mengiÂnap, termasuk dengan Farmers Market tempat mereka bekerja,â terang Syarif melalui rilis yang diterima Siwalima, Selasa (24/3).
Syarif mengatakan, pihaknya akan mempertimbangkan usulan masyaÂrakat untuk melakukan menyemÂprotkan disinfektan di setiap desa keluharan di Kota Ambon, termasuk RSUD dr. Haulussy.
âKita tidak punya rumah sakit, RSUD dr. Haulussy milik provinsi, nanti kota koordinasikan soal itu dengan mereka, sedangkan untuk desa kelurahan sedang mengarah ke situ,â jelasnya.
Ditanya soal rapid test, Syarif menjelaskan, sudah didatangkan oleh pemerintah pusat dan akan diÂbagikan ke setiap daerah. âUntuk Kota Ambon belum tiba,â ujarnya.
Ia meminta masyarakat Kota Ambon untuk tidak banyak beraktifitas di luar rumah, kalau tidak ada hal yang penting. âSaya himbau kepada seluruh masyarakat, tidak ada keperluan mendasar, jangan lancang keluar,â tegasnya. (S-39/Mg-6)