SIWALIMA.id > Berita
Daerah , Headline | Rabu, 21 Oktober 2026 pukul 14:46 WIT
MBG Belum Merata, Laturiuw Desak Dindik tak Lepas Tangan

AMBON, Siwalima.id - Ketimpangan penya­lu­ran program Ma­kan Bergizi Gratis atau MBG di Kota Ambon, menjadi sorotan DPRD. Dinas Pendidikan diminta tidak le­pas tangan dalam meng­awasi pelaksanaan program tersebut, meskipun tidak mengelola anggaran MBG secara langsung.

Anggota Komisi II DPRD Kota Ambon, Christanto La­turiuw menegaskan, pemerintah daerah tetap memiliki tang­gung jawab untuk memastikan seluruh siswa memperoleh manfaat program sesuai ketentuan dan kebutuhan di masing-masing sekolah.

“Pemberian MBG ini, wajib dilakukan selama ada aktivitas sekolah dan harus sesuai dengan jum­lah siswa yang tercatat. Dinas Pendidikan me­mang tidak mengelola anggarannya, tetapi se­kolah-sekolah merupakan penerima manfaat. Masa pimpinan institusi tidak tahu apa yang masuk dan berapa banyak siswa yang sudah maupun belum menerima,” tegas Laturiuw kepada wartawan di Ambon, Selasa (20/10).

Menurutnya, keterlibatan Dinas Pendidikan sangat penting, terutama dalam melakukan pemantauan ter­hadap pemerataan penerima manfaat MBG di seluruh sekolah di Kota Ambon.

Pengawasan tersebut, harus dimu­lai dari pendataan jumlah keselu­ruhan siswa, kemudian dibanding­kan dengan jumlah siswa yang telah terlayani program MBG. Dengan begitu, pemda dapat mengetahui secara pasti, sekolah mana yang sudah menerima manfaat dan mana yang masih belum terjangkau.

Berdasarkan data terakhir yang diterima Komisi II, pada September 2025 dari sekitar 66 ribu siswa di Kota Ambon, baru sekitar 23 persen yang tercatat telah terlayani program MBG. Meski demikian, data tersebut dinilai perlu dikonfirmasi dan di­perbarui, untuk memastikan per­kembangan penyaluran program hingga saat ini.

“Kita perlu data yang terkonfir­masi. Dari total sekitar 66 ribu siswa, berapa yang sudah menerima MBG dan berapa yang belum? Data ini penting agar pengawasan bisa dila­kukan se­cara terukur dan persoalan di lapa­ngan dapat diketahui,” cetus Laturiuw.

Ia mengaku, upaya Komisi II untuk memperoleh informasi terkini masih menghadapi kendala komunikasi dengan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Perwakilan Maluku, lantaran belum mendapatkan respons yang diharapkan, padahal informasi ter­sebut dibutuhkan untuk menjalan­kan fungsi pengawasan DPRD.

Kondisi itu, menyulitkan DPRD dalam memastikan tingkat pemera­taan program, sekaligus memper­juangkan pemenuhan hak siswa yang belum menerima MBG. Padahal komunikasi antara Pemkot Ambon dan BGN sebagai pihak yang ber­kaitan dengan pelaksanaan program tersebut sangatlah penting. 

Ia berharap, koordinasi lintas lem­baga tidak hanya berorientasi pada pengelolaan anggaran, tetapi juga pada tanggung jawab bersama me­mastikan program pemerintah berjalan efektif dan menjangkau seluruh sasaran.

“Kalau kita ikuti fungsi, tugas, tanggung jawab dan kepedulian terhadap program yang menyentuh langsung siswa-siswi di Kota Ambon, maka pemerataan MBG harus diperjuangkan. Jangan sampai ada sekolah yang terlayani, sementara sekolah lainnya belum dapat man­faatnya,” tegas Laturiuw.

Pemkota Ambon, menurut Latu­riuw, memiliki peran strategis dalam menjalankan fungsi monitoring dan evaluasi. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah, mengopti­malkan peran pengawas sekolah un­tuk memetakan pelaksanaan program MBG di setiap satuan pendidikan.

Melalui pengawasan tersebut, pemkot dapat menghimpun data mengenai jumlah sekolah yang telah menjadi penerima manfaat, jumlah siswa yang terlayani, serta sekolah yang belum mendapatkan penyalu­ran.

Data itu, selanjutnya dapat dijadi­kan dasar bagi pemkot untuk ber­koordinasi dengan BGN dan peme­rintah pusat, guna memperjuangkan perluasan cakupan penerima man­faat. Keterbatasan kewenangan da­lam pengelolaan anggaran, tidak boleh menjadi alasan bagi pemkot untuk mengabaikan fungsi penga­wa­san terhadap program yang berdampak langsung pada dunia pendidikan.

Ia berharap, Dinas Pendidikan dan Pemkot Ambon mengambil peran aktif dalam memastikan distribusi MBG berjalan merata, sehingga tidak ada siswa yang terabaikan akibat lemah­nya koordinasi dan pemantauan.

“Jangan terkesan cuci tangan hanya karena merasa tidak me­ngelola anggaran. Kepentingannya adalah memastikan program ini benar-benar menjangkau siswa se­cara merata. Pemkot harus hadir melalui fungsi pengawasan dan koordinasi,” tegas Laturiuw. 

Kepsek SMPN 2 Protes 

Terpisah, Kepala SMP Negeri 2 Ambon Elvis Suatran, memprotes pola penyaluran program MBG oleh dapur SPPG Mangga Dua, Keca­matan Nusaniwe.

Bagaimana tidak, MBG hanya di­salurkan saat proses belajar meng­ajar berlangsung. Sementara ketika siswa mengikuti kegiatan kerja bakti atau Porseni, MBG tidak diantar ke sekolah. Persoalan ini telah ber­langsung sejak awal kerja sama SMP ini dengan dapur Mangga Dua, hampir satu tahun terakhir.

Padahal, pihak sekolah telah menanyakan langsung persoalan tersebut kepada petugas lapangan. Namun, pihak dapur disebut ber­dalih, bahwa penyaluran MBG ha­nya dilakukan saat kegiatan belajar mengajar Standar Operasional Pro­sedur atau SOP. “Kalau anak-anak sedang kerja bakti atau ada kegiatan Porseni, mereka tidak bawa MBG. Mereka hanya bawa ketika proses belajar mengajar berlangsung,” beber Elvis kepada Siwalima di ruang kerjanya, Selasa (20/10).

Ia menyayangkan pola penyalu­ran tersebut, padahal, meskipun tidak ada pembelajaran di kelas, makanan masih bisa diantar agar siswa mengambilnya dan membawa pulang. Kegiatan Porseni biasanya berlangsung selama dua hingga tiga minggu, setelah pelaksanaan tes pada Desember. Dalam periode tersebut, siswa disebut tidak mene­rima MBG karena kegiatan belajar mengajar reguler tidak berlangsung.

Padahal, jika dibandingkan pela­yanan dapur Mangga Dua dengan dapur penyedia MBG lainnya menu­rutnya, tetap menyalurkan makanan ketika sekolah menggelar kegiatan di luar pembelajaran reguler.

Selain itu, Elvis mengungkapkan, bahwa pihak dapur pernah menyam­paikan kemungkinan SMP Negeri 2 Ambon tidak lagi menerima MBG karena disebut tidak tercantum dalam surat keputusan (SK).

“Ini uang pemerintah, bukan uang mereka. Kita mau MBG ini tepat sasaran,” tegas Elvis.

Meski mengeluhkan pola penya­luran, Elvis mengaku, pengantaran MBG biasanya tiba tepat waktu, sekitar pukul 09.00 WIT. Ia juga menilai pelayanan mulai membaik setelah pergantian pengelolaan dapur, termasuk dari sisi penyediaan menu makanan. “Saya berharap me­kanisme penyaluran MBG dieva­luasi, agar program tersebut berjalan konsisten dan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh para siswa,” harap Elvis.(S-10/S-30)

BERITA TERKAIT