AMBON, Siwalimanews – Badan Eksekutif Mahasiswa NusanÂtara Daerah Maluku, mengajak seluruh elemen mahasiswa agar menjaga kondusifitas di wilayah Maluku.
Ajakan ini disampaikan BEM NuÂsantara MaÂluku, pasca seÂleÂsainya aksi deÂmonÂstrasi yang diÂgelar di Kota Ambon beberapa waktu lalu.
Koordinator Daerah BEM Nusantara Maluku Adam R Rahantan mengungÂkapkan, aksi demonstrasi yang digelar mahasiswa adalah, bagian dari tangÂgung jawab moral untuk menyamÂpaikan aspirasi rakyat terhadap berÂbagai persoalan bangsa dan daerah.
Namun, setelah aksi selesai, maka tugas lebih besar menanti, yakni bagaimana semua elemen masÂyarakat dapat terus menjaga keÂamanan dan persaudaraan di Maluku.
âKami ingin menegaskan, bahÂwa perjuangan mahasiswa tidak berhenti di jalanan. Aksi yang berlangsung aman dan damai haÂnyalah satu episode dari perjalaÂnan panjang memperjuangkan keadilan sosial bagi rakyat. Pasca aksi, kita semua harus tetap bergandengan tangan untuk menjaga stabilitas, kondusifitas, dan kedamaian di Maluku,â ungkap Rahantan kepada Siwalima melaÂlui telepon selulernya, Sabtu (6/9).
Rahantan menekankan, mahaÂsisÂwa harus konsisten berjuang menyampaikan aspirasi tetapi dengan cara yang elegan, inteÂlektual dan bermartabat, termasuk tidak terprovokasi oleh isu-isu murahan yang dapat memecah belah gerakan mahasiswa.
Menurutnya, Maluku merupakan tanah yang kaya akan keberaÂgaman budaya, adat dan agama, maka tanggung jawab kaum mahasiswa, pemuda dan masyaÂrakat sangat penting menjaga kondusifitas sebab bila terus terjaga maka pembangunan dan kesejahteraan rakyat akan lebih mudah terwujud.
âKeamanan adalah syarat mutlak bagi pembangunan. Jika Maluku aman, maka investasi bisa masuk, pembangunan berjalan lanÂcar dan masyarakat bisa meÂnikmati kesejahteraan. Sebaliknya jika kita lengah dan terjebak dalam konflik, maka yang rugi adalah kita semua. Karena itu, mari kita rawat Maluku sebagai rumah bersama yang damai,â ajak Rahantan.
Rahantan pun menyampaikan apresiasi kepada Polda Maluku yang telah mengawal aksi mahaÂsiswa dengan sangat baik. KeÂhadiran aparat kepolisian yang humanis, persuasif, dan profesioÂnal menjadi salah satu faktor utama, mengapa aksi berjalan aman, lancar dan damai.
âKami memberikan pengharÂgaan setinggi-tingginya kepada Kapolda Maluku dan seluruh jajaran. Sejak awal hingga akhir, aparat keamanan mampu mengaÂwal aksi dengan pendekatan dialogis, bukan represif. Ini bukti bahwa polisi hadir sebagai pengÂayom rakyat, termasuk mahasiswa yang sedang menyuarakan aspiÂrasi,â tandas Rahantan.

                                   Seruan Kebangsaan
Terpisah, gabungan OKP dan tokoh masyarakat, aparat kepoliÂsian serta forkopimda menyerukan perdamaian lewat acara bertajuk Seruan Kebangsaan & Kedamaian dari Tanimbar untuk Indonesia.
Kegiatan yang dipusatkan di laÂpangan upacara Mapolres TanimÂbar, Jumat (4/9) malam itu digagas oleh gabungan OKP dan mahaÂsiswa yakni, KNPI, GMKI, GMNI, ALTAR BEM Unlesa dan DPMU Unlesa.
Ketua Tim Pelaksana Mezach Andre Luturmas menjelaskan, acara ini adalah kolaborasi peÂmuda Tanimbar bersama semua elemen bangsa dengan konsep ritual simbolik.
âDalam acara itu ada puisi, naÂrasi, orasi, hingga deklarasi. SeÂmua unsur Forkopimda, organiÂsasi kepemudaan, mahasiswa, dan masyarakat hadir dalam semangat kebangsaan,â ujarnya.
Asisten III Setda Tanimbar Masela Hutabarat mengaku haru menyaksikan, bahwa Tanimbar adalah cerminan kecil dari Indonesia.
âKita memiliki adat, agama, dan latar belakang yang berbeda, tetapi di tengah semua perbedaan itu, kita tetap satu keluarga besar,â ucap Masela.
Hal senada juga disampaikan Ketua DPRD Tanimbar Lorens Anggito, bahwa di ruang rakyat, sering berbeda pendapat, bahkan berdebat keras, namun akhirnya menemukan jalan tengah untuk kebaikan bersama.
âItulah wajah sejati dari Bhinneka Tunggal Ika,â tutur Anggito.
Sementara itu, Kapolres Tanimbar AKBP Ayani mengaku, keamanan lahir dari rasa perÂsaudaraan. Bahkan ia percaya, keamanan dan kedamaian lahir dari hati yang bersatu.
âSaya ingin menitipkan pesan, jadilah polisi bagi diri sendiri, bagi keluarga dan bagi lingkungan sekitar,â pesan kapolres.
Pada puncak acara itu ditandai dengan pembacaan deklarasi oleh Ketua KNPI Tanimbar, Lukas Samangun dan sebagai simbol pemersatu, ia juga mengikatkan kain tenun kebesaran Tanimbar di kepala Kapolres.
âKain tenun ini bukan sekadar hiasan, melainkan sebagai tanda, bahwa seluruh elemen masyarakat, dari pemerintah, aparat, akademisi, hingga tokoh agama dan pemuda, adalah satu keluarga besar. Kami ikat, bukan untuk memisahkan, melainkan untuk menyatukan,â jelas Samangun. (S-20/S-26)