AMBON, Siwalimanews – Kota Ambon dan Kota Tual diÂtetapkan sebagai status KejaÂdian Luar Biasa (KLB) pasca ditemukannya kasus keracunan pada menu Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Sementara Kabupaten Maluku Barat Daya masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan sumber karucunan.
Hal ini diungkapkan, Asisten I Setda Maluku Djalaludin SalamÂpessy, usai rapat koordinasi deÂngan pemerintah kabupaten/kota terkait program MBG di Maluku, Jumat (26/9).
Salampessy memastikan, pemerintah bersama BPÂOM tengah menyiapkan Standar Operasional ProÂsedur (SOP) kedaÂruratan untuk mengÂantisipasi kejadian tak terduga seperti keraÂcunan massal.
Dikatakan, pemda memaÂhami keÂkhaÂÂwatiran masÂyarakat atas renÂteÂtan insiÂden ini yang akan berÂdampak pada kepercayaan public, sehingga pengawasan kedepan akan dilaÂkukan secara ketat mulai dari dapur hingga meja makan siswa.
âMasalah ini menjadi bahan evaluasi total. Program MBG akan terus berjalan, tapi kualitas harus dijaga, dan SOP dipatuhi sampai tingkat paling rendah. Guru dan orang tua juga perlu dilibatkan agar kontrol berjalan lebih baik,â tandas Salampessy
Salempessy juga mengakui, keÂtersediaan kebutuhan pangan untuk program MBG di daerah terpencil masih terhambat.
Dikatakan, Pemerintah Provinsi Maluku tentu mendukung penuh program MBG agar tetap berjalan, demi mendukung visi generasi emas 2045.
Namun dengan kondisi geograÂfis Maluku yang sebagian besar adalah wilayah terpencil, tentu diperhadapkan dengan kendala teknis, khususnya terkait rantai pasok pangan di daerah terpencil.
âAda stok pangan tertentu yang tidak tersedia untuk suplai ke SPPG. Ini jadi masalah serius, apaÂlagi di daerah 3T. Dua hari ke depan kami akan gelar rapat tematik dengan Asisten II untuk mencari solusi distribusi,â ujar Salampessy.
Untuk menjembatani persoalan ini, Salampessy memastikan, pemprov akan membentuk satgas untuk mempermudah koordinasi dengan berbagai pihak, guna memastikan pasokan kebutuhan pangan dapat tersedia.
Soroti Dugaan Penyimpangan
Terpisah, tokoh masyarakat SeÂram Bagian Barat Samson R AtaÂpary, menyoroti pelaksanaan program MBG yang dinilainya berÂmasalah, baik dari sisi higienitas maupun pengelolaan anggaranÂnya.
Mantan anggota DPRD Maluku ini mengaku, secara faktual, sebaÂgian besar dapur MBG disebut diÂbangun mendadak dan kemungkiÂnan besar tidak sesuai standar higiÂenis yang bersertifikasi. Begitu juga juru masak atau pengelola daÂpur bukan tenaga profesional yang mendapat penÂdidikan khusus daÂlam memasak dan menyajikan maÂkaÂÂnan dengan standar higienis tinggi.
Kemudian, satu dapur diberi jaÂtah mengelola 3.000â4.500 porsi. Proses memasak dimulai sejak pukul 02.00 dini hari agar makanan untuk murid PAUD, TK, serta SD keÂlas 1â3 dapat tiba di sekolah seÂbeÂlum pukul 09.00 pagi, semenÂtaÂra untuk kelas 4 ke atas harus samÂpai sebelum pukul 12.00 siang.
âBisa dibayangkan memasak sekaligus untuk 3.000â4.500 porsi dengan kondisi yang tidak sesuai standar higienis, baik fasilitas maupun tenaga masaknya. Itu pasti berisiko terkena bakteri yang bisa menyebabkan keracunan makanan,â ujar Atapary, dalam rilisnya, yang diterima redaksi Siwalima, Jumat (26/9).
Ia juga membeberkan, rincian anggaran yang diterima satu dapur yakni sebesar Rp15 ribu/murid. Dana tersebut terbagi Rp2 ribu untuk mitra yayasan Rp3 ribu untuk operasional dapur dan Rp10 ribu untuk jatah makanan murid.
Mitra Yayasan yang mendapat hak eksklusif program MBG ini, sebagian besar memiliki jaringan dengan elite di Jakarta. Namun daÂlam praktiknya, diduga ada tamÂbahan pungutan Rp1.000 dari peÂmilik dapur, sehingga total bagian mitra menjadi Rp3 ribu/porsi.
âPadahal mitra tidak keluarkan biaya operasional. Itu hanya seÂmacam fee atau jatah preman,â beber Atapary.
Kenapa demikian, kata Atapary, karena pemilik dapur harus menaÂnggung biaya operasional mulai dari investasi dapur, gaji juru masak, hingga sopir distribusi. AkiÂbatÂnya, jatah Rp10 ribu/murid justru berkuÂrang Rp2 â 3 ribu, sehingga nilai makanan yang diÂsajikan hanya seÂkitar Rp7 hingga 8 ribu/porsi.
Ia juga memperkirakan, hak murid yang hilang dari program MBG mencapai Rp8 ribu/porsi/hari. Jika dikalikan dengan jumlah murid penerima tahun 2025 sebaÂnyak 82,9 juta anak, maka potensi dana yang hilang mencapai Rp198,96 triliun dalam setahun.
Dengan kondisi tersebut, maka ia mengusulkan agar anggaran MBG sebesar Rp15 ribu/porsi diserahkan langsung kepada orang tua murid untuk menyiapkan makanan anak mereka masing-masing. Guru hanya diberi tugas mengecek setiap hari, apakah anak membawa bekal bergizi atau tidak.
âJika anak tidak membawa bekal, orang tua dipanggil ke sekolah. Apabila sampai tiga kali tidak meÂnyiapkan, maka anggaran dihenÂtikan untuk orang tua tersebut,â usul Atapary.
Pola seperti ini menurut Atapary, dinilai lebih efektif untuk memasÂtikan hak anak benar-benar terpeÂnuhi, sekaligus menutup ruang praktek penyimpangan dalam peÂlaksanaan program MBG.
Tiga Dapur MBG Ditutup
Tiga unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi resmi ditutup, sebagai bentuk tindak lanjut atas kejadian siswa keracunan makaÂnan bergizi gratis (MBG).
Tiga SPPG tersebut tersebar di Kota Ambon, Kota Tual dan KaÂbuÂpaÂten MBD yang sebelumnya menÂsupÂlai makan bergizi untuk dikonÂsumsi siswa, dan berujung keracunan.
Kepastian penutup tiga unit SPPG ini disampaikan oleh Kepala Kantor Pemenuhan Gizi Maluku, Rosita kepada wartawan di ruang rapat lantai 2 Kantor Gubernur Maluku, Kamis (25/9).
Rosita menjelaskan, makan berÂgizi gratis merupakan salah satu program presiden Prabowo SubiÂanÂto yang harus disukseskan seÂbagai upaya untuk memastikan masa depan generasi bangsa khuÂsusnya di Maluku dapat terjamin.
Untuk memastikan program MBG ini berjalan dengan baik, tentu Badan Gizi Nasional telah menetapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam setiap tahaÂpan penyiapan makanan.
Artinya mulai dari tahapan pemilihan bahan makan, penyimÂpangan hingga penyajian dan pengiriman ke sekolah-sekolah untuk dikonsumsi oleh siswa, harus sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
âTentu semua proses penyimÂpaÂnan makan bergizi harus sesuai deÂngan SOP. Artinya dengan tiga kejaÂdian yang sudah terjadi bebeÂrapa waktu lalu sebagai pimpinan KPG saya mohon maaf kepada semua lapisan masyarakat,â ujar Rosita.
Dikatakan, pasca kejadian terÂsebut Kantor Pemenuhan Gizi telah mengambil tindakan tegas dengan menutup sementara tiga SPPG atau dapur MBG yang menyuplai makan ke tiga sekolah.
Penutupan tersebut kata Rosita merupakan langkah penting disamping pihaknya melakukan evaluasi terhadap seluruh kinerja dari SPPG-SPPG yang mengelola makan bergizi.
Rosita memastikan saat ini pihaknya juga sementara menuÂnggu hasil pengujian sampel makanan yang dilakukan oleh laboÂratorium BPOM, dan jika hasilnya sudah ada maka akan ada kebiÂjakan yang diambil.
Sambil menunggu hasil laboraÂtorium, Rosita memastikan telah meÂlakukan langkah-langkah mitiÂgasi bagi SPPG lain di Maluku guna memastikan makanan yang disajiÂkan tidak bermasalah. âBagi SPPG lain yang saat ini sedang melayani MBG, saya sudah ingatkan agar makanan yang disajikan kompoÂsisinya lengkap termasuk sesuai angka kecukupan gizi yang mereka dapatkan,â tegasnya.(S-20)