SIWALIMA.id > Berita
Daerah , Headline | Selasa, 13 Oktober 2026 pukul 16:28 WIT
Kabut Asap Lumpuhkan Penerbangan di Ambon, Sejumlah Rute Delay & Batal

AMBON, Siwalima.id - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengganggu operasional penerbangan di Bandara Internasional, Pattimura Ambon. 

Jarak pandang yang turun hingga di bawah 2.000 meter menyebabkan sejumlah penerbangan mengalami penundaan (delay) hingga pemba­talan (cancel).

PT Angkasa Pura Indonesia (Per­sero) Kantor Cabang Bandara In­ter­nasional Pattimura Ambon mencatat gangguan penerbangan terjadi sejak Kamis (8/10) hingga Senin (12/10).

Kondisi cuaca buruk tersebut membuat operasional penerbangan di Bandara Pattimura maupun se­jumlah bandara tujuan terdampak. Faktor keselamatan menjadi pertim­bangan utama dalam pengambilan keputusan operasional.

Berdasarkan data pengelola ban­dara pada Kamis (8/10), sejumlah penerbangan mengalami penun­daan, yakni Batik Air tujuan Nabire, Wings Air tujuan Dobo dan Ternate, serta Lion Air tujuan Makassar. Sementara penerbangan Lion Air tujuan Langgur dan Wings Air tujuan Namlea dibatalkan.

Pada Jumat (9/10), operasional penerbangan dilaporkan berjalan normal tanpa gangguan. Namun gangguan kembali terjadi pada Sabtu (10/10). 

Lion Air tujuan Sorong dan Su­rabaya mengalami penundaan. Se­dangkan enam penerbangan diba­talkan yakni Wings Air tujuan Saumlaki, Dobo, dan Ternate serta Batik Air tujuan Makassar, Nabire dan Jakarta.

Situasi berlanjut pada Minggu (11/10). Lion Air tujuan Makassar mengalami penundaan. Adapun penerbangan yang dibatalkan meli­puti Trigana Air tujuan Kufar dan Moa, Batik Air tujuan Nabire, Wings Air tujuan Dobo, Namlea, dan Ternate, Lion Air tujuan Langgur, serta Garuda Indonesia tujuan Jakarta.

Senin, sejumlah penerbangan kembali terganggu hingga Senin (12/10), gangguan penerbangan masih terjadi. 

Berdasarkan siaran pers penge­lola bandara, penerbangan yang mengalami penundaan mencakup Wings Air tujuan Ternate dan Dobo serta Lion Air tujuan Langgur, Sorong, Surabaya, Makassar dan Namlea.

Sementara itu, penerbangan yang dibatalkan meliputi Trigana Air tujuan Namrole dan Emalamo (Sanana), serta Smart Air tujuan Wahai dan Banda Neira.

Rentetan gangguan tersebut ber­dampak pada perjalanan penumpang yang hendak menuju sejumlah wilayah di Maluku maupun kota lain di Indonesia.

Untuk menangani dampak gang­guan operasional, manajemen Ban­dara Pattimura memberikan layanan pemulihan (Service Recovery Action) berupa makanan ringan dan minuman kepada penumpang yang terdampak penundaan maupun pembatalan penerbangan.

Bagi penumpang dengan pener­bangan yang dibatalkan, pengelola bandara mengarahkan mereka ke loket layanan pelanggan masing-masing maskapai untuk mengurus pengembalian dana (refund) atau penjadwalan ulang (reschedule).

Pengelola bandara juga mene­gaskan, proses kompensasi, peng­em­balian dana dan penjadwalan ulang menjadi tanggung jawab maskapai sesuai ketentuan yang berlaku. Adapun pihak pengelola bandara bertugas menjaga kenya­manan fasilitas terminal, ketertiban serta membantu penyampaian infor­masi penerbangan.

PT Angkasa Pura Indonesia menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami para pengguna jasa bandara akibat kondisi cuaca buruk tersebut.

Manajemen menegaskan kesela­matan dan keamanan penerbangan tetap menjadi prioritas utama. Ka­rena itu, penyesuaian jadwal mau­pun pembatalan penerbangan dila­kukan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan persyaratan ke­selamatan operasional. 

Kesulitan Modifikasi Cuaca

Kendati kebakaran hutan dan lahan terus terjadi dan menyita per­hatian publik namun Pemerintah Pro­vinsi Maluku menyebut kesulitan untuk melakukan modifikasi cuaca.

Juru bicara Pemerintah Provinsi Maluku, Kasrul Selang mengatakan pemerintah terus mencari solusi untuk mengurangi dampak kebaka­ran hutan dan lahan salah satunya de­ngan melakukan modifikasi cuaca.

Upaya modifikasi cuaca ini, kata Kasrul bahkan telah dikoordi­nasikan dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) namun masih diperhadapkan de­ngan kesulitan karena faktor alam.

“Modifikasi cuaca ini menjadi salah satu solusi dan sudah kita bicarakan dengan BMKG tapi kita juga kesulitan karena tidak ada awan yang bisa dimanfaatkan untuk menaburkan garam,” ungkap Kasrul kepada wartawan di ruang kerjanya, Senin (12/10).

Dikatakan sesuai hasil pantauan BMKG terhadap kondisi udara diatas wilayah Provinsi Maluku, ternyata tidak ditemukan satu pun bibit awan yang dapat dimanfaatkan untuk modifikasi cuaca sehingga opsi ini tidak dapat dikesampingkan.

Ia bilang jika BMKG menemukan adanya bibit awal tentu langkah modifikasi cuaca telah dilakukan guna mempercepat hujan, khusus­nya pada daerah-daerah yang saat ini dilanda kebakaran hutan dalam lahan.

Kasrul bilang kondisi kebakaran hutan dan lahan saat ini telah ber­dampak pada penerbangan dimana jarak pandang secara vertikal hanya sekitar 800 meter, sedangkan hori­sontal hanya 1.000 meter.

Ia menegaskan jika jarak pandang secara horizontal kurang dari 800 meter tentu pihak maskapai akan melakukan penutupan sementara terhadap bandara.

Pimpin Doa 

Walikota Ambon Bodewin Watti­mena memimpin doa bersama untuk memohon turunnya hujan di tengah kemarau panjang yang mening­katkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap di Kota Ambon.

Doa tersebut dipanjatkan saat apel pagi Pemerintah Kota Ambon di Balai Kota Ambon, Senin (12/10). Bodewin mengajak seluruh jajaran pemerintah daerah memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar hujan segera turun dan kondisi alam kembali membaik.

Kemarau berkepanjangan menjadi perhatian pemerintah karena kondisi lahan yang kering dapat mening­katkan risiko kebakaran. Asap akibat kebakaran juga berpotensi mem­perburuk kualitas udara dan mengganggu kesehatan masyarakat.

Dalam kesempatan itu, Bodewin meminta camat, lurah, raja serta pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) untuk terus berdoa dan mengajak masyarakat memper­kuat kebersamaan menghadapi kondisi tersebut.

Selain mengajak masyarakat berdoa, pemerintah daerah perlu memperkuat langkah pencegahan kebakaran dan penanganan dampak kabut asap. Dirinya berharap doa ber­sama tersebut memperkuat kepe­dulian dan semangat gotong royong selu­ruh elemen masyarakat dalam me­nghadapi kemarau panjang.

Walikota juga mengajak warga tetap waspada terhadap potensi kebakaran, menjaga kesehatan di tengah kabut asap, serta bersama-sama melindungi lingkungan hingga kondisi cuaca kembali membaik.(S-20/S-30)

BERITA TERKAIT