AMBON, Siwalima.id - Dampak dari perubahan iklim yang kini mulai mengancam Maluku berupa, kenaikan permukaan air laut, mulai menjadi perhatian serius Universitas Pattimura Ambon.
Wakil Rektor Bidang Akademik Unpatti Prof Dominggu Malle menegaskan, isu kenaikan permukaan air laut sangat relevan dengan kondisi geografis Maluku, sebagai provinsi kepulauan, sebab sekitar 92 persen wilayah Maluku merupakan laut, sedangkan daratan hanya sekitar 8 persen.
Kondisi tersebut, membuat kenaikan permukaan air laut menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian dalam perencanaan pembangunan.
“Artinya, kondisi yang terjadi saat ini sudah kita rasakan, yaitu adanya kenaikan permukaan air laut, terutama masyarakat yang berada di Pulau Ambon,” tulis Malle dalam rilisnya yang diterima redaksi Siwalima, Selasa (29/9).
Ia menilai, kenaikan permukaan air laut perlu dimitigasi sejak dini, agar tidak mengganggu pembangunan dan kehidupan masyarakat dalam jangka panjang.
“Kenaikan permukaan air laut menjadi sebuah ancaman yang harus dimitigasi secepat mungkin, sehingga perencanaan pembangunan tidak terganggu,” tandas Malle.
Meskipun kenaikan permuka air laut berlangsung secara perlahan kata Malle, namun dampaknya dapat menjadi signifikan, apabila tidak diantisipasi. “Memang kenaikan muka air laut tidaklah cepat, tetapi untuk jangka panjang sangat berdampak,” tegas Malle.
Menurut Malle, kehadiran Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard dalam kuliah umum yang digelar Jumat kemarin, sangat penting untuk memberikan perspektif strategis mengenai perencanaan pembangunan yang mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan.
Selain memberikan pemahaman mengenai fenomena kenaikan permukaan air laut, kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran mahasiswa mengenai pentingnya pembangunan yang adaptif dan berkelanjutan.
“Melalui kegiatan ini mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai fenomena kenaikan permukaan air laut, tetapi juga memahami pentingnya perencanaan pembangunan yang adaptif dan berkelanjutan,” tegas Malle.
Sebelumnya diberitakan, masyarakat Maluku khususnya yang tinggal di kawasan pesisir pantai, dihimbau untuk waspada terhadap kenaikan permukaan air laut
Ancaman kenaikan permukaan air laut yang berpotensi berdampak pada ribuan orang di Maluku ini juga telah menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Maluku, termasuk dalam perencanaan pembangunan.
Sekda Maluku, Sadli Ie kepada wartawan di Ambon, Senin (29/9) menjelaskan, sesuai hasil kajian terungkap, sekitar 49 ribu penduduk, 16 fasilitas kesehatan, 27 bangunan sekolah serta lebih dari 31 ribu hektare lahan di Maluku berada di wilayah yang berpotensi terdampak.
Kondisi tersebut, mendorong Pemprov Maluku, memperkuat perencanaan pembangunan yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim, khususnya untuk melindungi masyarakat, layanan dasar serta keberlanjutan pembangunan di kawasan pesisir. “Karakter Maluku sebagai provinsi kepulauan tentu menghadirkan tantangan pembangunan yang berbeda dengan daerah yang didominasi wilayah daratan, termasuk potensi kenaikan muka air,” ucap Sekda.
Ia mengaku, Maluku memiliki sekitar 92,4 persen wilayah laut dan hanya 7,6 persen daratan, menyebabkan masyarakat sangat bergantung pada kawasan pesisir, mulai dari permukiman, mata pencaharian hingga berbagai layanan dasar.
Bahkan data Badan Pusat Statistik pada tahun 2023, mencatat terdapat 1.040 desa di Maluku yang berlokasi di kawasan pesisir sehingga ini menjadi tantangan baru.
“Pemerintah Provinsi Maluku terus mendorong agar perencanaan pembangunan tidak hanya berorientasi pada masalah hari ini, tetapi juga mampu mengantisipasi risiko masa depan,” tandas sekda.
Sekda menegaskan, potensi kenaikan permukaan air laut yang sedang mengancam ribuan masyarakat di Maluku, tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur perlindungan wilayah pesisir seperti membuat tembok laut, tanggul atau pemecah gelombang saja.
Untuk itu, pemerintah daerah, perlu mengambil langkah yang lebih menyeluruh, mulai dari menyesuaikan tata ruang dan desain infrastruktur, memperkuat sistem pelayanan dasar, melindungi kelompok rentan hingga membangun ketahanan ekonomi masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim.
Beberapa upaya yang menjadi Fokus pemerintah lanjut sekda, diantaranya pembangun infrastruktur pesisir yang tahan terhadap kenaikan muka air laut, melakukan konservasi dan rehabilitasi ekosistem pesisir untuk melindungi garis pantai dari abrasi dan meningkatkan ketahanan pesisir terhadap kenaikan muka air laut.
“Pemerintah terus berupaya untuk membuat kebijakan pembangunan yang dapat mencegah kenaikan muka air laut ke dalam perencanaan pembangunan daerah,” katanya.(S-25)