BUPATI Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir membuka kegiatan Pelantikan dan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Pengurus Kerukunan Keluarga Sulawesi Tenggara (KKST) Kabupaten Malteng, masa bakti (2024â2029),yang berlangsung dalam suasana penuh kehangatan dan kekeluargaan, di Baileo,Ir Soekarno Masohi, Kamis (4/7).
Kegiatan tersebut turut dihadiri Paduka Yang Mulia Sultan Buton ke-41 serta Ketua Majelis Adat Kerajaan Nusantara Muna, yang kehadirannya dinilai sebagai sebuah kehormatan besar bagi masyarakat Maluku Tengah.
Bupati menyampaikan apresiasi atas kehadiran para tokoh adat tersebut. Ia menilai kehadiran mereka merupakan simbol kuatnya ikatan sejarah, budaya, dan kekerabatan antara masyarakat Maluku, khususnya Maluku Tengah, dan Sulawesi Tenggara yang telah terjalin sejak dahulu kala.
âKehadiran Yang Mulia adalah anugerah kehormatan bagi masyarakat Maluku Tengah. Ini mempererat hubungan kultural antara dua daerah yang telah lama hidup berdampingan dalam nilai-nilai luhur,â kata bupati.
Mengusung tema âBersatu daÂ-lam Keragaman; Memperkuat Solidaritas, Berkontribusi untuk Maltebg Bangkitâ, kegiatan ini diniÂ-lai bupati sangat relevan dengan kondisi sosial daerah. Ia mengÂanaÂlogikan Maluku Tengah seperti pelangi yang justru menjadi indah karena perbedaan warnanya.
Zulkarnain mengajak seluruh jajaran pengurus KKST untuk menjadikan momentum ini seÂ-bagai titik awal penguatan konÂ-tribusi nyata dalam pembanguÂnan daerah, serta mempererat harmoni sosial antarsesama warga di bumi Pamahanunusa.
âKeluarga besar KKST bukan orang lain di daerah ini. Di negeri-negeri, dusun, pasar, hingga kantor-kantor, kita melihat warga Sulawesi Tenggara hidup rukun berdampingan dengan masyarakat lokal. Ini cermin dari semangat Pela-Gandong dan Masohi yang terus kita jaga,â ungkapnya.
Ia juga menyampaikan haraÂpan agar KKST dapat menjadi mitra strategis pemerintah daeÂ-rah dalam memperkuat ketahaÂnan sosial, memberdayakan ekonomi keluarga, serta menjaga nilai-nilai kearifan lokal.
Dalam kesempatan itu, Bupati juga mengucapkan terima kasih kepada Lembaga Adat KesultaÂnan Buton yang telah menganuÂgerahkan Kampurui kepadanya.
âKampurui ini bukan sekadar simbol budaya, tetapi lambang persaudaraan dan ikatan batin antara saya dan keluarga besar Sulawesi Tenggara di Maluku Tengah. Saya mengenakannya dengan rasa hormat dan bangga, bukan hanya atas nama pribadi, tapi atas nama seluruh rakyat Maltengâ tuturnya. (S-17)