SIWALIMA.id > Berita
Opini | Selasa, 3 November 2026 pukul 14:00 WIT
Menata Kelas, Menata Karakter

BAYANGKAN seseorang baru pulang bekerja, tubuhnya lelah, pikirannya penuh, dan ia berharap rumah menjadi tempat beristirahat. 

Namun, begitu pintu dibuka, lantai basah, butiran nasi berserakan, makanan dibiarkan terbuka, sementara anak masih asyik bermain game. Orangtua mulai bergumam, suaranya meninggi, dan kekesalan yang semula tertahan berubah menjadi amarah. Bukan semata-mata karena rumah kotor, melainkan juga karena kenyamanan bersama seolah tidak dihargai.

Pemandangan serupa dapat terjadi di sekolah. Guru memasuki kelas dengan rencana pembelajaran yang telah disiapkan, namun, meja tidak tertata, sampah berserakan, dinding kosong, dan anak-anak berbicara bersahutan. Alih-alih langsung belajar, guru harus menghabiskan waktu menertibkan keadaan. Jika rumah yang berantakan dapat memengaruhi suasana hati penghuninya, bagaimana dengan kelas yang setiap hari menjadi tempat anak-anak belajar? Apakah lingkungan kelas hanya menjadi latar pembelajaran, atau justru bagian dari pendidikan itu sendiri?

LINGKUNGAN MENDIDIK

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penting menelaah pandangan para ahli pendidikan. John Dewey, filsuf pendidikan Amerika, dalam bukunya, Democracy and Education (1916), menulis, 'We never educate directly, but indirectly by means of the environment'. Artinya, pendidikan tidak hanya berlangsung melalui pengajaran langsung, tetapi juga melalui lingkungan. Dewey menekankan bahwa lingkungan perlu ditata dengan kesadaran terhadap pengaruhnya bagi perkembangan anak (Dewey, 1916).

Pemikiran Dewey mengingatkan bahwa pendidikan tidak berhenti ketika guru menerangkan materi. Anak juga harus diajarkan menjaga kelasnya sendiri yang menjadi rumah keduanya dalam belajar. Salah satu wujud konkretnya ialah pembiasaan tanggung jawab bersama melalui jadwal piket. Ketika siswa terbiasa membuang sampah pada tempatnya, merapikan meja bersama teman, dan mendengarkan teman berbicara, mereka belajar bertanggung jawab, bekerja sama, dan menghargai orang lain.

Sebaliknya, apabila ketidakteraturan terus dibiarkan, anak kehilangan kesempatan memahami bahwa ruang kelas membutuhkan kepedulian semua penggunanya. Pandangan Dewey diperkuat penelitian Wang dan kolega (2020) dalam jurnal Developmental Review. Metaanalisis terhadap 61 penelitian dengan 73.824 peserta menemukan hubungan positif antara iklim kelas dan kompetensi sosial, motivasi, keterlibatan, serta prestasi akademik. Iklim kelas yang lebih baik juga berkaitan dengan tingkat tekanan emosional dan perilaku eksternal yang lebih rendah. Temuan itu menunjukkan pengalaman belajar tidak hanya ditentukan materi dan kemampuan guru menjelaskan, tetapi juga oleh suasana sosial, dukungan emosional, serta pengelolaan kelas.

JANGAN HANYA MENERTIBKAN

Jika lingkungan yang mendidik menjadi landasan, bagaimana mewujudkannya dalam praktik? Sue Cowley (2024) dalam Getting Your Class to Behave menawarkan pendekatan praktis pengelolaan kelas. Ketika siswa ribut, sebagian guru langsung meninggikan suara; ketika kelas kotor, guru menegur. Cara itu terkadang perlu, tetapi tidak cukup jika hanya dilakukan setelah masalah muncul. Alih-alih semata bereaksi, guru perlu memberikan keteladanan—menyapu kelas kotor sambil mengajari siswa. Pengelolaan kelas harus bergerak dari reaksi menuju pembiasaan.

Lima menit sebelum pembelajaran dapat digunakan untuk memastikan meja tertata, sampah dibuang, dan perlengkapan belajar siap. Sebelum diskusi kelompok, siswa menyepakati cara berbicara, mendengarkan, dan berbagi tugas. Setelah kegiatan selesai, setiap kelompok mengembalikan alat belajar ke tempat semula. Rutinitas sederhana itu mengajarkan ketertiban bukan semata-mata keinginan guru, melainkan juga kebutuhan hidup agar setiap anak dapat belajar dengan nyaman.

Selain rutinitas tersebut, guru perlu memahami bahwa perilaku siswa memiliki latar belakang beragam: belum memahami instruksi, bosan, atau masih belajar mengendalikan diri. Di samping itu, guru perlu menata lingkungan fisik yang mendukung tanpa harus mahal. Dinding kelas dapat menampilkan karya siswa, kesepakatan bersama, peta konsep, atau pertanyaan pemantik; sudut baca sederhana mendorong literasi; meja yang ditata sesuai dengan kebutuhan memudahkan anak bergerak, berdiskusi, dan bekerja sama. Karya yang dipajang menghargai usaha siswa, sedangkan kesepakatan bersama menegaskan bahwa aturan ialah komitmen, bukan sekadar perintah guru.

Namun, keindahan kelas yang baru saja dibahas tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Kelas yang penuh poster belum tentu menyenangkan jika siswanya takut bertanya atau khawatir dipermalukan ketika melakukan kesalahan. Kenyamanan fisik harus berjalan beriringan dengan kenyamanan psikologis. Anak perlu merasa aman untuk menyampaikan pendapat, mencoba sesuatu yang baru, dan belajar dari kekeliruan. Kelas yang ideal bukanlah ruang yang sekadar indah dipandang, melainkan juga ruang yang mendukung rasa ingin tahu, interaksi positif, dan penghargaan terhadap setiap anak.

GURU MENDIDIK MELALUI LINGKUNGAN

Jika sebelumnya menekankan keteladanan guru, bagian ini menegaskan bahwa pengelolaan kelas ialah tanggung jawab bersama. Guru memang bertanggung jawab menciptakan lingkungan nyaman, tetapi bukan satu-satunya yang membersihkan dan merapikan. Jika guru memungut sampah sendirian sementara siswa meninggalkan kelas kotor, kesempatan pendidikan terlewatkan: anak menikmati kenyamanan tanpa belajar menciptakannya.

Siswa perlu dilibatkan dalam merawat ruang belajarnya. Guru dapat mengajak mereka menyusun kesepakatan kelas, menentukan pembagian tanggung jawab, memeriksa kebersihan sebelum pulang, dan mendiskusikan solusi ketika kelas berantakan. Di sinilah guru tidak hanya memberikan contoh, tetapi juga melibatkan siswa dalam mengambil keputusan, bukan sekadar memerintah dengan nada tinggi.

Pada akhirnya, kelas ialah bagian dari pengalaman pendidikan anak. Meja, kursi, dinding, aturan, interaksi, bahkan cara guru merespons kekacauan menyampaikan pelajaran tersendiri. Ketika kelas berantakan, guru memang perlu menata ruang. Namun, tugas yang lebih penting ialah menata kebiasaan, membangun kesepakatan, dan menumbuhkan kepedulian. Ketika anak-anak ribut, guru tidak cukup meminta mereka diam. Guru juga perlu mengajarkan kapan harus berbicara, kapan perlu mendengarkan, dan bagaimana menghormati hak belajar orang lain.

Pendidikan bukan bertujuan menghasilkan anak yang tertib hanya ketika diawasi. Pendidikan seharusnya membantu mereka menjadi pribadi yang mampu mengatur diri, memahami tanggung jawab, dan peduli terhadap lingkungan. Rumah yang rapi membuat penghuninya nyaman. Kelas yang tertata dapat mendukung pembelajaran. Namun, rumah dan kelas yang benar-benar mendidik ialah ruang yang mengajarkan setiap penghuninya untuk ikut menjaga kenyamanan bersama. 

Kebiasaan-kebiasaan kecil itulah yang perlahan membentuk karakter: disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian bukan karena diperintah, melainkan karena dipahami dan dihayati. Oleh: Gunawan Guru PAI SD Sukma Bangsa Lhokseumawe.(*)

BERITA TERKAIT