SIWALIMA.id > Berita
Online | Jumat, 23 Oktober 2026 pukul 17:25 WIT
Ribuan Umat Padati Maluku Bermazmur 2026

AMBON, Siwalima.id – Ribuan umat dari Kota Ambon dan berbagai daerah di Maluku memadati Stadion Mandala Remaja, Karang Panjang, Ambon, Kamis (22/10)sore, untuk mengikuti pembukaan Maluku Bermazmur 2026.

Kegiatan pujian dan penyembahan berskala internasional ini, menghadirkan pemimpin rohani dari berbagai negara. Selain menjadi momentum penguatan iman, kegiatan tersebut juga membawa pesan persatuan, toleransi, dan perdamaian bagi masyarakat Maluku.

Pembukaan Maluku Bermazmur 2026 dihadiri jajaran Pemerintah Provinsi Maluku, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), anggota DPRD Provinsi Maluku, Ketua DPRD Kota Ambon, Wakil Walikota Ambon Elly Toisutta, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku, pimpinan sinode gereja, tokoh lintas agama, tokoh adat, akademisi, pemuda, serta masyarakat.

Sejumlah pemimpin rohani internasional dari Belanda, Spanyol, Filipina, Inggris, Peru, hingga Nigeria turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Salah satu tokoh yang menjadi perhatian ialah Dr Paul Enenche, pendeta senior sekaligus pendiri Dunamis International Gospel Centre asal Nigeria. Ia hadir bersama istrinya, Dr Becky Paul-Enenche, dan tim pelayanan mereka.

Maluku Bermazmur 2026 secara resmi dibuka oleh Rektor Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon, Elka Anakotta, yang mewakili Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama Republik Indonesia.

Dalam sambutannya, Anakotta menyampaikan apresiasi kepada panitia, gereja-gereja, lembaga keagamaan, pemerintah daerah, pemimpin umat, kaum muda, dan seluruh masyarakat yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Puji dan syukur kita panjatkan kepada Tuhan, karena hari ini kita dapat berkumpul dalam acara Maluku Bermazmur dengan tema The God of Wonders, Allah yang Menghadirkan Keajaiban,” kata Anakotta di hadapan ribuan umat.

Menurutnya, tema tersebut mengingatkan umat, bahwa Tuhan terus berkarya dalam kehidupan manusia, termasuk melalui upaya membangun perdamaian, memperkuat persaudaraan, dan menghadirkan kasih di tengah keberagaman.

Ia mengajak umat Kristen menjadikan pujian dan penyembahan bukan sekadar ekspresi ibadah, melainkan juga kekuatan untuk mendorong perubahan sosial.

“Melalui Maluku Bermazmur, saya mengajak seluruh umat Kristen untuk menjadikan pujian dan penyembahan bukan sekadar ekspresi ibadah semata, melainkan juga kekuatan transformasi sosial,” ujarnya.

Anakotta berharap, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kerukunan umat beragama, mendorong moderasi beragama, serta meningkatkan kualitas kehidupan spiritual yang berdampak nyata bagi pembangunan bangsa.

“Marilah kita bersama-sama menjadi alat Tuhan untuk menghadirkan keajaiban-Nya bagi Indonesia, khususnya bagi Maluku yang kita cintai,” ajaknya.

Sementara itu, Wakil Walikota Ambon Ely Toisutta yang membacakan sambutan Wali Kota Ambon Bodewin M Wattimena mengajak masyarakat menjadikan Maluku Bermazmur sebagai momentum memperkuat persaudaraan, membangun iman, serta menumbuhkan semangat perdamaian dan kasih.

Atas nama Pemerintah Kota Ambon, Ely menyampaikan apresiasi kepada panitia pelaksana yang bekerja sama dengan Badan Musyawarah Antar Gereja (BAMAG-LKKI) Provinsi Maluku dan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku.

Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk memuji dan memuliakan Tuhan, tetapi juga sarana mempererat hubungan antarmasyarakat di tengah berbagai tantangan sosial dan ekonomi.

“Pelaksanaan Maluku Bermazmur ini bukan hanya sekadar acara puji-pujian semata, tetapi merupakan gerakan rohani untuk mempersatukan kita,” tandas Elly 

Apresiasi serupa disampaikan Pemerintah Provinsi Maluku melalui Asisten III Sekretariat Daerah Provinsi Maluku, Boy Kaya, yang mewakili gubernur.

Dalam sambutannya, Kaya menyampaikan dukungan pemerintah provinsi terhadap penyelenggaraan kegiatan kerohanian berskala internasional tersebut.

Ia menilai, kehadiran masyarakat Maluku bersama para tamu dari berbagai negara menunjukkan bahwa Maluku, khususnya Kota Ambon, merupakan rumah yang hangat, aman, dan penuh kedamaian bagi siapa saja.

Kaya juga menyoroti asal mula gagasan Maluku Bermazmur yang lahir dari komunitas orang Ambon di Belanda sebagai ungkapan syukur atas perjalanan hidup mereka.

Menurutnya, gagasan tersebut menjadi bukti bahwa jarak geografis tidak menghapus ikatan batin dan kecintaan masyarakat Maluku terhadap tanah leluhur.

“Ini bukti nyata bahwa sejauh apa pun kaki melangkah, ikatan batin dan cinta terhadap tanah leluhur, Bumi Raja-Raja, tidak pernah pudar,” ungkapnya.

Ia mengatakan, Maluku Bermazmur menjadi momentum bersama untuk meruntuhkan sekat-sekat perbedaan, mempererat kebersamaan, dan meningkatkan kualitas iman masyarakat.

Kaya juga menilai ribuan umat yang berkumpul untuk menaikkan mazmur, pujian, dan doa dalam satu hati membawa pesan perdamaian serta pemulihan bagi Maluku.

Melalui kegiatan tersebut, Maluku diharapkan dapat menunjukkan kepada dunia wajah masyarakat yang menjunjung tinggi harmoni, toleransi, dan semangat hidup orang basudara.

“Melalui nada pujian dan atmosfer doa, kita sedang memperlihatkan wajah Maluku yang sesungguhnya, yakni wajah harmoni, toleransi, dan semangat hidup orang basudara,” ujarnya.

Kaya menambahkan, pemerintah daerah membutuhkan dukungan doa dari para hamba Tuhan dan seluruh umat agar masyarakat semakin kuat dalam menghadapi berbagai tantangan.

Ia berharap, semangat rohani yang dibangun melalui Maluku Bermazmur dapat memperkuat karakter masyarakat, menjauhkan Maluku dari perpecahan, serta menumbuhkan optimisme dalam menatap masa depan.

“Maluku Bermazmur 2026 pun diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk merawat persaudaraan, memperkuat toleransi, dan menjaga perdamaian di Maluku,” harap Kaya.(S-30)

BERITA TERKAIT