SIWALIMA.id > Berita
Online | Sabtu, 24 Oktober 2026 pukul 15:40 WIT
Wallikota: Simulasi Bencana Harus Jadi Budaya

AMBON, Siwalima.id – Walikota Ambon, Bodewin Wattimena mengaku, untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami, maka edukasi dan simulasi bencana secara berkelanjutan sangatlah penting.

Pasalnya, pengalaman gempa bumi yang mengguncang Ambon pada 2019 lalu, harus menjadi pelajaran penting agar masyarakat semakin memahami langkah penyelamatan diri ketika bencana terjadi.

Hal itu disampaikan walikota saat membuka Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami tahun 2026 di Ruang Rapat Vlisingen, Balai Kota, Sabtu (24/10).

Walikota mengisahkan, ketika gempa besar mengguncang Ambon pada 2019, banyak warga bergegas meninggalkan kawasan permukiman menuju tempat yang lebih tinggi. Respons tersebut menunjukkan adanya kesadaran masyarakat untuk menyelamatkan diri, tetapi perlu diperkuat melalui edukasi dan simulasi yang terarah.

“Kalau kita terbiasa melakukan simulasi-simulasi, masyarakat akan terbiasa menghadapi situasi darurat. Kita berharap melalui sekolah lapang seperti ini, masyarakat Kota Ambon menjadi masyarakat yang tangguh menghadapi gempa bumi,” ujar walikota. 

Masyarakat menurut walikota, harus mengetahui kapan perlu melakukan evakuasi, kemana harus bergerak, serta bagaimana mengikuti arahan keselamatan saat gempa bumi maupun tsunami terjadi.

Pemkot Ambon, terus mendorong penguatan mitigasi bencana melalui pemasangan rambu-rambu evakuasi, sosialisasi, dan kerja sama dengan berbagai lembaga terkait.

Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah, berkolaborasi dengan BMKG serta UNESCO melalui program Tsunami Ready di Negeri Galala dan Hative Kecil, sebab kesiapsiagaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan lembaga kebencanaan, namun setiap keluarga harus memahami langkah penyelamatan diri, sementara masyarakat perlu membangun kepedulian untuk saling membantu ketika bencana terjadi.

“Yang paling penting adalah bagaimana kita mengurangi risiko dan mencegah jatuhnya korban jiwa. Itu dapat dilakukan jika masyarakat teredukasi dan memahami dengan baik cara menyelamatkan diri ketika gempa bumi dan tsunami terjadi,” tandas walikota.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar, Nasrol Adil mengingatkan, bahwa kondisi geografis Maluku dengan sejumlah sesar aktif membuat wilayah ini memiliki potensi gempa bumi yang harus diantisipasi secara serius.

“Yang patut kita waspadai adalah potensi-potensi gempa dan tsunami. Di wilayah kita ini ada beberapa sesar yang memiliki potensi terjadinya gempa bumi, termasuk gempa yang berpotensi merusak dengan magnitudo sekitar 6 sampai 7,” ujar Nasrol.

Nasrol mengaku, catatan sejarah menunjukkan Ambon dan wilayah sekitarnya pernah mengalami gempa bumi dan tsunami. Karena itu, masyarakat perlu membekali diri dengan pengetahuan kebencanaan, kesiapan mental, serta pemahaman mengenai prosedur evakuasi yang benar.

Edukasi kebencanaan bukan bertujuan menimbulkan kepanikan, melainkan membangun kewaspadaan agar masyarakat mampu mengambil keputusan yang tepat dalam situasi darurat.

“Tujuan kita adalah membangun kewaspadaan secara konstruktif. Kita bukan membangun kepanikan kepada masyarakat, tetapi membangun kewaspadaan agar menjadi budaya tangguh menghadapi gempa dan tsunami,” tegas Nasrol.

Ia juga minta masyarakat, khususnya yang bermukim di kawasan pesisir dan dataran rendah, mengenali jalur evakuasi serta memahami wilayah yang berpotensi terdampak tsunami. Selain ancaman gempa bumi dan tsunami, masyarakat Maluku juga diingatkan agar mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi akibat dinamika iklim dan cuaca.

Kondisi El Nino yang berlangsung saat ini berpotensi memicu kekeringan dan meningkatkan risiko kebakaran di kawasan permukiman maupun lahan. Di sisi lain, musim hujan di Kota Ambon dan Provinsi Maluku diprakirakan mulai pada dasarian pertama Desember. Dasarian merupakan periode sepuluh hari dalam kalender meteorologi.

“Karena itu, pemda dan seluruh instansi terkait diminta mempersiapkan langkah antisipasi sejak November, terutama menghadapi ancaman banjir, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, dan sambaran petir,” pesan Nasrol.

Nasrol turut menyampaikan bahwa, gangguan jarak pandang penerbangan akibat kabut asap yang sebelumnya terjadi telah membaik, dengan visibilitas sekitar lima hingga enam kilometer saat memberikan keterangan. Meski demikian, perkembangan cuaca dan dampaknya terhadap aktivitas masyarakat tetap perlu dipantau.

Ia berharap, pelaksanaan Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami Kota Ambon Tahun 2026 dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai potensi ancaman bencana, sistem peringatan dini, mitigasi, dan prosedur evakuasi.

Melalui kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, BMKG, lembaga kebencanaan, dan masyarakat, upaya mewujudkan Ambon sebagai kota tangguh bencana diharapkan semakin kuat. Kesiapsiagaan sejak dini menjadi kunci untuk mengurangi risiko bencana dan melindungi keselamatan masyarakat.

Untuk diketahui, Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami yang berlangsung dibawah sorotan tema Bersama Membangun Masyarakat Tangguh Bencana itu, dibuka secara daring oleh Anggota Komisi V DPR Widya Pratiwi.(S-30)

BERITA TERKAIT