AMBON, Siwalima.id – Tim Pengabdian Masyarakat Politeknik Negeri Ambon (Polnam) melaksanakan pelatihan vokasional pengelasan berbasis kompetensi bagi para pemuda di Desa Saunulu, Rabu (9/10)
Kolaborasi antara Polnam dan Pemerintah Desa Saunulu, Kecamatan Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah ini, sekaligus menghadirkan solusi konkret atas tingginya angka pengangguran pemuda di desa tersebut.
Ketua Tim pengabdian masyarakat Polnam, Hendrik Kenedy Tupan menjelaskan, pelatihan ini tidak sekadar memberikan keterampilan teknis, tetapi juga membentuk kemandirian.
“Keterampilan pengelasan adalah bekal nyata yang bisa langsung diarahkan untuk mencari pekerjaan maupun membuka usaha sendiri. Kami ingin pemuda Saunulu tidak lagi menunggu, tetapi menjadi pelaku ekonomi,” tulis Tupan dalam rilisnya yang diterima redaksi Siwalima.id, Selasa (13/10).
Pelatihan ini menurut Tupan, dirancang untuk menjawab dua persoalan sekaligus yakni, kebutuhan desa akan tenaga kerja terampil dan tuntutan industri akan keterampilan teknis (hard skills) yang aplikatif.
Tim pelaksana yang digawangi Hendrik Kenedy Tupan, Melda Dahoklory, dan Ester Akerina ini, merancang kurikulum yang tidak hanya teoritis, tetapi langsung menyentuh standar praktik industri, bahkan materi pelatihan difokuskan pada tiga pilar utama.
Ketiga pilar utama itu yakni, Teknik Pengelasan (welding), dimana peserta dibimbing dari hulu hingga hilir, mulai dari teknik persiapan material logam hingga metode penyambungan yang benar sesuai standar industri.
Kemudian, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), dimana penanaman kesadaran kritis mengenai penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dan prosedur kerja aman. Hal ini dinilai krusial untuk meminimalisir risiko kecelakaan kerja, baik di lingkungan bengkel maupun di lapangan.
Dan terakhir, kewirausahaan vokasional, dimana selain mencetak tenaga kerja, program ini bertujuan memotivasi peserta untuk membangun mentalitas wirausaha dnegan tujuan agar pemuda Saunulu tidak hanya pasif menunggu lowongan, tetapi mampu merintis usaha jasa pengelasan mandiri.
Masih dalam rilis itu, anggota tim Melda Dahoklory menambahkan, penggunaan APD bukan sekadar formalitas, melainkan budaya kerja yang harus melekat sejak awal.
“Keselamatan kerja adalah fondasi. Setiap peserta harus terbiasa menggunakan APD dan mengikuti prosedur aman, karena di dunia industri, nyawa dan kesehatan jauh lebih berharga daripada kecepatan pekerjaan,” jelas Dahoklory.
Dukungan Pemdes
Antusiasme peserta terlihat jelas, baik pada sesi teori maupun praktik lapangan. Kehadiran keterampilan pengelasan yang kini dikuasai pemuda desa ini, diharapkan menjadi portofolio baru yang meningkatkan daya saing mereka di pasar kerja.
Kepala Desa Saunulu mengaku, program ini adalah jembatan bagi desa untuk menyiapkan SDM lokal agar tidak tertinggal.
“Kami dari pemerintah desa berharap, program seperti ini dapat berkelanjutan. Pemuda kami tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu membuka bengkel sendiri dan menghidupkan perekonomian desa,” ucap kades.
Sebagai institusi pendidikan vokasi, Polnam menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat melalui program pengabdian yang relevan dengan kebutuhan lapangan, khususnya dalam pemberdayaan SDM di pedesaan.
Sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah desa ini, diharapkan menciptakan multiplier effect yang positif, yaitu penggerak roda perekonomian lokal serta penekan angka pengangguran di usia produktif.(S-06)