SIWALIMA.id > Berita
Daerah | Senin, 13 Oktober 2025 pukul 15:34 WIT
Kebakaran Hutan Ancam Dua Wilayah di Maluku

AMBON, Siwalimanews – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Pattimura Ambon mencatat potensi bencana kebakaran hutan terjadi di Kabupaten Maluku Barat Daya dan Kepulauan Tanimbar.

Kepala BMKG Stasiun Pattimura Ambon, Kemari menyebut pihaknya telah mengeluarkan peringatan dini kepada masyarakat akan ancaman kebakaran hutan dan lahan.

“Secara umum tingkat kemudahan terbakar pada lapisan atas permukaan tanah di wilayah Maluku berada pada kategori aman (Low) dan tidak mudah (Moderate) kecuali di wilayah MBD berada pada kategori mudah (High),” tulisnya dalam rilis yang diterima Siwalima, sabtu (11/10).

Ia menjelaskan, berdasarkan Fine Fuel Moisture Code menunjukkan tingkat potensi kemudahan terjadinya kebakaran ditinjau dari parameter cuaca pada bahan-bahan ringan, mudah terbakar di lapisan atas permukaan tanah.

Bahan mudah terbakar seperti humus permukaan, sampah dedaunan kering, alang-alang dan bahan ringan lain yang biasanya menutupi lantai hutan pada kedalaman 1-2 cm.

Duff Moisture Code katanya, menunjukkan tingkat potensi kemudahan terjadinya kebakaran ditinjau dari parameter cuaca pada bahan organik di lapisan menengah permukaan tanah dan bahan-bahan kayu ringan (ranting-ranting kecil, semak belukar berkayu) di permukaan tanah.

“Secara umum tingkat kemudahan terbakar pada lapisan atas permukaan tanah di wilayah Maluku berada pada kategori aman (Low) dan tidak mudah (Moderate),” jelasnya.

Namun, di wilayah KKT dan MBD berada pada kategori mudah (High) dan sangat mudah (Very High).

Initial Spread Index katanya, menunjukkan tingkat kemudahan penyebaran api jika terjadi keba­-ka­ran hutan. Nilai ISI meningkat secara eksponensial terhadap kecepatan angin Nilai ISI menjadi 2x lipat setiap kenaikan kecepatan angin sebesar 13 km/jam (3.6 m/s).

Ini menggambarkan kemudahan penyebaran di area padang rumput atau alang-alang, dimana penyebaran api yang sangat cepat akibat kecepatan angin yang tinggi dapat membentuk pola kepala api,” terangnya.

Pihaknya menyarankan agar segera melakukan koordinasi dengan kementerian, dinas dan lembaga terkait setempat untuk pemanfaatan lebih lanjut dari data/informasi yang disediakan.

Ia juga berharap, bagi pengguna atau masyarakat disarankan untuk melihat perkembangan cuaca dan kondisi lingkungan terkini untuk menentukan potensi kebakaran hutan dan lahan di wilayah pengguna. (S-27)

BERITA TERKAIT