AMBON, Siwalima.id - Ketua DPP Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Roberth Tanamal berjanji akan berkolaborasi dengan pemerintah memajukan dunia usaha untuk membangun Maluku.
“Sinergi tidak boleh berhenti sebagai slogan, tetapi harus diwujudkan melalui program dan hasil nyata,” jelas Tanamal dalam sambutan perdana usai dilantik sebagai ketua DPP di salah satu restoran di Ambon, Jumat (23/10).
Menurutnya sebagai mitra pemerintah daerah dirinya bersama pengurus akan mendorong investasi, memperluas lapangan kerja dan memastikan pertumbuhan ekonomi dirasakan secara merata oleh masyarakat.
Dikatakan pengukuhan kepengurusan baru bukan sekadar seremoni organisasi, melainkan momentum memperbarui komitmen dan memperkuat peran dunia usaha dalam pembangunan ekonomi Maluku.
Tantangan dunia usaha ke depan tidak mudah. Karena itu, dibutuhkan kesamaan visi dan kerja sama antara pemerintah, pelaku usaha, pekerja, serta seluruh pemangku kepentingan.
Pemerintah dan dunia usaha memiliki peran berbeda, tetapi saling membutuhkan untuk mewujudkan kemajuan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Diakui, pemerintah berperan menetapkan kebijakan, membangun infrastruktur, menciptakan kepastian hukum dan menghadirkan iklim investasi yang kondusif.
Sementara itu, dunia usaha berperan menggerakkan investasi, meningkatkan produksi, memperluas perdagangan dan menciptakan lapangan kerja.
Karena itu, APINDO Maluku berkomitmen membangun kemitraan yang terbuka, konstruktif dan berkelanjutan dengan Pemerintah Provinsi Maluku serta pemerintah kabupaten dan kota.
“Kami ingin hadir bukan hanya sebagai organisasi yang menyampaikan aspirasi pengusaha, tetapi juga sebagai mitra pemikir, mitra dialog, dan mitra pelaksanaan pembangunan ekonomi daerah,” katanya.
Untuk itu ia berharap kebijakan strategis yang berkaitan dengan investasi, ketenagakerjaan, perpajakan, distribusi barang dan pengembangan sektor usaha dibangun melalui komunikasi serta dialog antara pemerintah dan dunia usaha.
Selain itu, APINDO juga harus berperan dalam mencegah persoalan dunia usaha, merumuskan solusi dan membuka peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi daerah, bukan hanya hadir ketika masalah muncul.
Pembangunan ekonomi Maluku harus diarahkan bukan hanya untuk mengejar pertumbuhan, melainkan juga memastikan pemerataan manfaat di seluruh wilayah.
Salah satu peluang strategis yang disorot adalah pengembangan proyek gas Abadi Blok Masela.
“Proyek tersebut dinilai berpotensi mendorong pembangunan infrastruktur, meningkatkan kebutuhan tenaga kerja, dan mengembangkan industri pendukung,” ungkapnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa besarnya investasi harus diikuti dengan keterlibatan pengusaha lokal dalam rantai pasok dan kegiatan ekonomi turunannya.
“Kami tidak ingin pengusaha lokal hanya menjadi penonton ketika investasi besar berlangsung di wilayah Maluku,” tegasnya.
Ditambahkan keberhasilan organisasi tidak semata-mata diukur dari besarnya struktur kepengurusan atau banyaknya program yang diumumkan, tetapi dari persoalan dunia usaha yang berhasil diselesaikan dan manfaat yang dihasilkan.
Sebelumnya, Ketua Umum APINDO Shinta W. Kamdani dalam sambutan ketika melantik pengurus DPP APINDO Maluku mengatakan Maluku memiliki potensi ekonomi yang besar.
Menurut Shinta, kekayaan alam, sejarah, dan budaya Maluku merupakan modal penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Potensi tersebut perlu dioptimalkan melalui investasi, pengembangan industri hilir, serta kolaborasi yang lebih kuat antara dunia usaha dan pemerintah daerah,” jelasnya.
Shinta memaparkan, pertumbuhan ekonomi Maluku tercatat sebesar 4,56 persen. Namun, angka tersebut masih berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain itu, Maluku memiliki sekitar 1,97 juta penduduk, dengan kurang lebih satu juta orang masuk dalam angkatan kerja. Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka disebut mencapai 5,8 persen.
“Capaian tersebut masih dapat ditingkatkan jika potensi ekonomi daerah dikelola secara optimal dan mampu menciptakan lebih banyak lapangan kerja produktif,” tandasnya.(S-25)