AMBON, Siwalimanews – Universitas Pattimura kembali mengukuhkan tiga Guru Besar dalam Rapat Senat Terbuka Luar Biasa yang berlangsung, Kamis (22/5), di Gedung Rektorat Unpatti, Poka.
Pengukuhan kali ini meÂlibatkan tiga akademisi dari berbagai disiplin ilmu, yaitu Akuntansi ManajeÂmen, Oseanografi Biologi, dan Teknik Perkapalan.
Mereka adalah Prof. Dr. Christina Sososutiksno, SE., M.Si., Akt., CA, dikuÂkuhÂkan sebagai Guru Besar daÂlam ranting ilmu/KepaÂkaran Akuntansi ManajeÂmen/Keprilakuan pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Prof Christina dalam pidato ilÂmiahnya yang berjudul âBehavioral Managerial Earnings Management (B-MEM): Gagasan Baru dalam Membangun Transparansi dan Akuntabilitas Laporan Keuanganâ.
Sementara itu, Prof. Ir. Irma Kesaulya, MSc., Ph.D., dikukuhkan dalam ranting ilmu/kepaparan Oseanografi Biologi pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Dalam pidato ilmiahnya berjudul âPeranan Fitoplankton sebagai Penentu Kesuburan Perairan untuk Menunjang Usaha Perikanan Keberlanjutan di Provinsi Malukuâ.
Prof. Dr. Richard Benny Luhulima dikukuhkan dalam ranting ilmu/kepaparan Teknik Kelautan dan Ilmu Kelauatan pada Fakultas Teknik Unpatti, mengangkat topik âAdaptasi dan Inovasi: Menjawab Kebutuhan Transportasi Laut di Kepulauan Indonesia yang Ramah Lingkunganâ.
Prof. Dr. Christina dalam pidato pengukuhannya mengemukakan ide-ide inovatif yang menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam laporan keuaÂngan, serta dampak dari praktik manajemen laba yang seringkali mengaburkan kondisi ekonomi nyata suatu perusahaan.
Dikatakan, laporan keuangan adalah komponen vital dalam sistem informasi akuntansi modern, yang berfungsi sebagai saÂrana untuk menyampaikan kondisi keuangan dan kinerja entitas kepada berbagai pemangku keÂpentingan.
Menurutnya, dalam praktiknya lapoÂran keuangan tidak selalu mencerminkan realitas ekonomi secara objektif.
Ia menyoroti masalah manajeÂmen laba, dimana intervensi maÂnaÂjerial yang strategis sering diÂgunakan untuk memanipulasi laporan keuangan demi tujuan tertentu, seperti meningkatkan citra kinerja perusahaan.
Dengan memperkenalkan keÂrangÂka konseptual baru yang disebut Behavioral Managerial Earnings Management (B-MEM), yang menggabungkan perspektif agensi, perilaku, dan tata kelola untuk memahami praktik manajeÂmen laba secara lebih holistik. Melalui pendekatan ini, B-MEM melihat manajemen laba tidak hanya sebagai hasil keputusan rasional semata, tetapi juga sebaÂgai produk dari interaksi kompleks antara sistem insentif, persepsi individu, dan tekanan institusional.
Ia menekankan pentingnya peÂnguatan sistem tata kelola dan keÂbijakan yang mendukung pengÂawasan yang lebih efektif terhadap laporan keuangan.
Prof. Christina juga memandang Universitas Pattimura sebagai lembaga yang memiliki peran straÂtegis dalam membentuk sistem pendidikan yang mendukung nilai-nilai transparansi dan akuntaÂbilitas, yang kini menjadi sangat relevan di dunia global yang semakin menekankan etika dan keberlanjutan dalam bisnis.
Peran Fitoplankton
Sementara Prof. Irma memaÂparkan tentang Peran Fitoplankton dalam Keberlanjutan Perikanan di Maluku. Yang mana menurutnya, dalam upaya menjaga keberlanÂjutan sektor perikanan di Maluku, pentingnya fitoplankton sebagai indikator utama dalam memantau produktivitas perairan laut.
Dijelaskan, fenomena dan strukÂtur ukuran fitoplankton memainkan peran vital dalam keberhasilan rantai makanan laut, yang pada gilirannya berpengaruh besar terhadap industri perikanan.
Fitoplankton sendiri tidak hanya berfungsi sebagai dasar rantai makanan laut, tetapi juga menjadi indikator penting bagi kesehatan ekosistem perairan. Kehadiran fitoplankton dengan ukuran yang tepat mendukung keberlanjutan bisnis perikanan, baik di skala besar maupun tradisional.
Dengan teknologi penginderaan jarak jauh seperti satelit yang mengukur konsentrasi klorofil-a (chl-a), kita dapat memantau sebaÂran biomasa fitoplankton, yang merupakan 90 persen dari proÂduktivitas laut.
âSektor perikanan di Maluku saÂngat bergantung pada kesuburan perairan laut. Menjaga kestabilan ekosistem laut, khususnya melalui pemantauan fitoplankton, sangat penting untuk memastikan keberÂlanjutan usaha perikanan,â ujarnya.
Ia juga menekankan dampak perubahan iklim yang dapat memÂpeÂngaruhi suhu dan produktivitas perairan, yang berisiko menuÂrunkan hasil tangkapan ikan.
Sebagai langkah nyata untuk mengatasi tantangan ini, Prof Irma mengusulkan perlunya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat peÂsisir, dan perguruan tinggi daÂlam meÂrumuskan kebijakan yang menÂdukung perikanan berkelanjutan.
âMasyarakat pesisir harus diberÂdayakan untuk memahami dan terlibat dalam monitoring kondisi perairan, termasuk deteksi fenoÂmena blooming fitoplankton yang dapat merugikan usaha perikaÂnan,â tambahnya.
Lebih lanjut, Ia mengajak semua pihak untuk memperhatikan pentingnya Indeks Kesehatan Laut (IKLI) sebagai alat ukur untuk memantau kondisi kesehatan ekosistem laut.
âDengan adanya Ocean Health Index (OHI) yang lebih luas, kita bisa memastikan bahwa usaha perikanan di Maluku memenuhi standar internasional, yang pada giÂlirannya akan mendukung keberÂlanjutan industri perikanan Maluku di pasar global,â jelasnya.
Maluku, yang kaya akan sumber daya alam laut, memiliki potensi besar dalam sektor perikanan. NaÂmun, untuk memastikan keberlanÂjutan sektor ini, kesadaran dan tindakan bersama untuk menjaga keseimbangan ekosistem laut sangat diperlukan.
Dengan itu diharapkan, peneÂlitian dan kerja sama antara berÂbagai pihak dapat menghasilkan kebijakan yang lebih efektif untuk menjaga kesuburan dan kelesÂtarian perairan laut di kawasan tersebut.
Ramah Lingkungan
Sedangkan Prof. Richard menÂdorong penggunaan Kapal Multihull untuk Transportasi Laut Ramah Lingkungan di Maluku.
Dijelaskan, pentingnya adaptasi dan inovasi dalam memenuhi kebuÂtuhan transportasi laut yang ramah lingkungan di Kepulauan Indonesia, khususnya di Provinsi Maluku.
Menurutnya, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam membangun sistem transÂporÂtasi laut yang tidak hanya mengÂhubungkan ribuan pulau, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan.
âMaluku, dengan karakteristik geografis yang memiliki perairan tenang di beberapa wilayah dan laut terbuka yang bergejolak di tempat lain, membutuhkan kapal yang tidak hanya efisien, tetapi juga ramah lingkungan,â ujarnya.
Dikatakan, provinsi ini sangat bergantung pada transportasi laut untuk menghubungkan pulau-pulau yang tersebar, dengan jarak antar pulau yang beragam. NaÂmun, masalah utama yang dihadapi adalah ketidakmampuan kapal ukuran kecil untuk beroperasi dengan maksimal saat kondisi cuaca buruk, terutama pada bulan Januari dan Juni, ketika gelombang laut bisa mencapai ketinggian hingga 5 meter.
Dalam pidatonya, Prof. Richard juga membahas perkembangan teknologi kapal, terutama kapal berbadan multihull (katamaran dan trimaran), yang kini semakin populer. Kapal jenis ini, menurutnya, memiliki sejumlah kelebihan, antara lain stabilitas yang lebih baik, efisiensi bahan bakar yang lebih tinggi, dan daya tahan yang lebih baik terhadap kondisi laut yang berubah-ubah.
Dalam analisisnya, Ia menunjukkan bahwa kapal monohull menghasilkan emisi CO2 yang jauh lebih tinggi dibandingkan kapal multihull. Perhitungan Emission Energy Design Index (EEDI) kapal monohull adalah 303,40 gmCO2/tonne per tahun, sementara kapal multihull hanya menghasilkan 76,49 gmCO2/tonne per tahun untuk katamaran, dan 70,09 gmCO2/tonne per tahun untuk trimaran.
Hasil ini menunjukkan bahwa kapal multihull jauh lebih efisien dalam mengurangi emisi karbon dioksida dan memenuhi standar yang ditetapkan oleh Organisasi Maritim Internasional (IMO).
âKapal trimaran, misalnya, memiÂliki kapasitas muat hingga 440 perÂsen dari kapal monohull, menjadiÂkanÂnya pilihan ideal untuk transÂportasi laut di Maluku, yang memiliki berbagai rute pelayaran dengan jarak jauh antar pulau,â jelasnya.
Melalui teknologi kapal multihull, Ia berharap sektor transportasi laut di Maluku dan Indonesia pada umumnya dapat mengurangi damÂpak negatif terhadap lingkungan sambil memenuhi kebutuhan transÂportasi yang semakin meningkat.
Selain itu, ia juga menekankan penÂtingnya kolaborasi antara peÂmerintah, masyarakat, dan industri untuk memastikan bahwa inovasi dalam teknologi kapal ini dapat diimplementasikan secara luas, seÂhingga dapat memberikan damÂpak positif bagi perekonomian dan keberlanjutan lingkungan. (S-25)